WARTA | TEKNO

24 Board Game Indonesia Berlaga di Jerman

WARTAJAKARTA / ISTIMEWA



Wartajakarta.com-ESSEN, JERMAN - Setiap tahun, sebuah pameran board game paling megah bernama Internationale Spieltage SPIEL (biasa disebut SPIEL) digelar di kota Essen, Jerman. Ajang ini merupakan salah satu pameran berskala internasional yang paling besar dan selalu menjadi rujukan di industri board game dunia.

Tahun ini, Indonesia kembali akan berpartisipasi di ajang tersebut. Ini merupakan kali ketiga Indonesia hadir di ajang SPIEL, setelah 2014 dan 2017. Bedanya, kali ini kontingen Indonesia akan hadir dengan booth yang lebih luas, yaitu 66 m² (sebelumnya 10 m²) dan berada di gelanggang utama pameran atau tepatnya di Hall 3 dengan nomor booth Q-106.

Dengan panggung yang lebih besar, Indonesia akan mengenalkan setidaknya 24 judul board game karya anak bangsa kepada dunia. Karya-karya tersebut diciptakan oleh tujuh penerbit dan studio yang berasal dari Jakarta, Bandung, Solo hingga Surabaya.

Gerakan besar ini tercipta berkat adanya dukungan dari Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) dan Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI) dengan menghadirkan booth Archipelageek. Berbagai strategi disusun oleh BEKRAF dan APIBGI untuk menunjukkan bahwa industri board game Indonesia sedang bertumbuh, sekaligus mempromosikan Indonesia lewat board game.

Salah satu strateginya adalah dengan menampilkan judul-judul board game Indonesia terbaik atau yang disebut sebagai Indonesia Select untuk menjadi sorotan utama di booth Archipelageek. Ada 8 judul yang masuk ke dalam Indonesia Select:
Aquatico - Menampilkan ekosistem perairan Indonesia dengan flora dan fauna khas seperti Hutan Bakau, Dugong dan Bekantan.
Mahapatha - Menampilkan fiksi fantasi asli buatan Indonesia dengan komponen bidak berupa miniatur tiga dimensi.
Mahardika - Menampilkan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, dengan tokoh seperti Bung Karno dan Bung Hatta.
Orang Rimba - Menampilkan perjuangan suku Anak Dalam untuk menjaga harmoni dengan alam dan menghadapi ancaman kerusakan lingkungan.
Smong - Diangkat dari kearifan lokal mengenai Smong, yang sesungguhnya merupakan metafora pada potensi bencana Tsunami.
The Festivals - Menempatkan pemain sebagai pengunjung berbagai festival seni dan budaya di Indonesia.
The Art of Batik - Menampilkan serunya menjadi pengrajin batik di era 1970-an.
Waroong Wars - Menampilkan khazanah kuliner khas Jawa Timur seperti Rujak Cingur, Tahu Petis dan lainnya.

Andre Dubari, Ketua Umum APIBGI, mengatakan harapan utama partisipasi Indonesia kali ini tentu agar board game karya desainer Indonesia bisa semakin dikenal pasar board game Internasional. Di sisi lain, ujar Andre, keikutsertaan ini juga bisa memberikan gambaran kepada masyarakat board game sedunia bahwa di Indonesia industri board game mulai menggeliat dan tumbuh semakin besar.

“Kesempatan untuk hadir di Essen Spiel juga saya harapkan terus membangun market confidence di Tanah Air, bahwa produk board game karya desainer kita bisa bersanding dengan produk board game dari seluruh dunia.” jelas Andre.

Joshua Simandjuntak, Deputi Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) bidang Pemasaran, sejak awal sudah melihat potensi besar yang tersimpan dari industri board game Indonesia. “Industri board game bisa meningkatkan PDB ekonomi kreatif, menyerap tenaga kerja, kemudian bisa meningkatkan nilai ekspor yang lebih tinggi. Board game sendiri juga merupakan produk kreatif.”

Joshua juga optimis dan terus menampakkan dukungannya pada industri board game Indonesia. “Kami ingin produk kreatif termasuk board game mendunia, apalagi kalau sedang di luar negeri dan masuk ke kafe menemukan board game dari Indonesia, itu akan menjadi pencapaian yang luar biasa.” terang Joshua saat menutup sesi Musyawarah Nasional APIBGI pada bulan April lalu.

Pada ajang SPIEL’18 yang akan berlangsung dari tanggal 25 - 28 Oktober 2018, booth Archipelageek akan diramaikan pula dengan adanya agenda penandatanganan nota kesepahaman untuk kerjasama antara salah satu penerbit board game Indonesia, Manikmaya Games dengan salah satu penerbit board game internasional terbesar asal Perancis, Blue Orange Games.

"Kesepakatan kerjasama publikasi dan distribusi salah satu karya Boardgame Indonesia, dengan konten Indonesia cerita Timun Mas, antara Manikmaya dan Blue Orange menjadi satu bukti bahwa karya board game dan konten Indonesia diakui sekaligus juga punya nilai jual yang tinggi di market internasional. Kerjasama ini menjadi milestone besar industri board game kita dan semoga semakin menambah semangat rekan-rekan untuk terus berkarya mengangkat berbagai konten Indonesia," ujar Eko Nugroho, Ketua Dewan Penasihat APIBGI.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi

Now Trending