WARTA | NASIONAL

Wisuda Unindra Ke-65 Harus Sanggup Menghadapi Tantangan Multidimensional

WARTAJAKARTA / ISTIMEWA

Wartajakarta.com-Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) kembali mewisuda para lulusan sarjananya pada semester genap tahun akademik 2018-2019 yang ke-65 dengan jumlah wisudawan/i sebanyak 1134 mahasiswa yang terdiri dari 159 mahasiswa Program Pascasarjana (S2) dan 975 mahasiswa Program Sarjana (SI),bertempat di Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah,pada hari Rabu (31/10).

Dalam sambutanya,Rektor Unindra Prof. Dr. H. Sumaryoto mengatakan di era reformasi dan globalisasi dewasa ini, Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI beserta segenap sivitas akademika dihadapkan pada tantangan multidimensional yang salah satunya dapat meluluskan sarjana yang profesional dan kompetitif secara global."Kami Patut bersyukur dan kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunai-Nya sehingga Universitas Indraprasta PGRI dapat menyelenggarakan Wisuda ke-65", tuturnya.

Wisuda yang ke-65 ini sangat istimewa karena bertepatan pada bulan sumpah pemuda,disaat yang sama Unindra dapat penghargaan untuk mengisi acara di TVRI memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan diisi pagelaran wayang kulit yang bertema sumpah pemuda. Selain itu juga,di kesempatan wisuda yang ke 65 ini , Unindra turut berbelasungkawa terjadinya tragedi jatuhnya Pesawat Lion Air JT-610, ujar Prof Sumaryoto.

Lebih lanjut Prof Sumaryoto menyampaikan pesannya, setiap lulusan sarjana pendidikan harus menghayati benar tugas dan kewajibannya sebagai seorang tenaga pendidik yang profesional dan penuh dedikasi dalam melaksanakan tugas.

Selain itu, guna menunjang kompetensi bagi setiap lulusan, penambahan pengetahuan dan perluasan wawasan senantiasa berlangsung secara terus menerus",imbuh Prof Sumaryoto.

"Saya menghimbau kepada seluruh mahasiswa agar selalu menanamkan rasa syukur dan nikmat, kita syukuri semuanya bahwa uang kuliah di Unindra ini sangat terjangkau, kalau itu kita syukuri, insya Allah segala aktivitas apapun akan terasa nikmat dan bersyukur atas izin Allah", imbuh Prof Sumaryoto.

Sementara itu, orasi ilmiah wisuda ke-65 disampaikan oleh Dr Winny Gunarti Widya W, beliau merupakan Dosen Program Studi Disain Komunikasi Visual. Selain itu, wisuda juga dihadiri oleh beberapa undangan antara lain, Lembaga Layanan Dikti Wilayah III, PB PGRI, Pengurus Yayasan (YPLP PT), para wali Wisudawan dan Wisudawati, dan undangan lainnya.


Saat ini, kehidupan masyarakat pada umumnya, dan khususnya di perkotaan,telah mengalami tingkat ketergantungan yang tinggi pada “layar” ruang visual. Gejala-gejala nomophobia atau ketergantungan pada smartphone semakin mudah ditemukan dan menggejala pada generasi muda. Bahkan sindrom FoMo (Fear of Missing Out) yaitu ketakutan untuk ketinggalan informasi, status terkini, atau segala sesuatu yang perlu di up date, semakin berpotensi menjadi penyakit sosial yang mewabah.

Zaman memang telah berubah. Kemajuan teknologi informasi telah memaksa manusia untuk memasuki ruang dan waktu informasi yang serba ‘up to date’, serba instan, dan selalu berubah. Secara sadar dan tidak sadar (conscious dan unconscious) manusia seolah “diwajibkan” untuk menyerap informasi dan membangun berbagai persepsi, mengkonstruksi pikiran-pikirannya, baik yang sifatnya tersurat (tangible) maupun yang tersirat (intangible).

Peradaban manusia saat ini adalah bentuk-bentuk entitas budaya visual yang dihadirkan untuk memuaskan kebutuhannya akan informasi dan hiburan. Entitas adalah kesatuan yang lahir dengan ciri-ciri spesifik sebagai tontonan. Entitas dapat mewujud sebagai suatu peristiwa, aktivitas, atau konsep tentang kebutuhan manusia dalam upayanya menemukan relasi di lingkungan sosialnya.

Pada waktu yang sama, Sekretaris Lembaga Layanan Dikti Kopertis wilayah III Jakarta Drs H Samsuri menambahkan, kebahagiaan ini bukan hanya bagi para wisudawan ataupun wisudawati, tetapi yang sangat berbahagia adalah orangtua kalian masing-masing, ucapnya.

"Saya berharap kepada para wisuda harus tetap menjaga kualitasnya. Walaupun Unindra terbilang pembayaran kuliah yang murah ala kaki 5 (lima), akan tetapi kualitas pendidikan haruslah standar bintang 5 (lima)", kata Samsuri.

Orang yang sukses, kata Samsuri, adalah orang yang terus belajar di setiap fase peningkatan, sehingga orang itu akan menjadi orang yang hebat.KAS

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi

Now Trending