WARTA | NASIONAL

Sertifikat RSPO London Sumatra Milik Indofood Dicabut

WARTAJAKARTA / ISTIMEWA

Wartajakarta.com- Hari ini skema sertifikasi minyak sawit terbesar di dunia, Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), menginstruksikan penangguhan semua sertifikat “keberlanjutan” RSPO milik anak perusahaan minyak sawit raksasa Indofood PT PP London Sumatra (Lonsum).


Ini merupakan perkembangan terkini terkait pelanggaran Indofood atas lebih dari dua puluh standar RSPO serta 10 pelanggaran peraturan perundangan Indonesia yang ditemukan dalam investigasi RSPO. Investigasi terkait praktik ketenagakerjaan perkebunan sawit Indofood tercetus oleh pengaduan terhadap perusahaan tersebut yang diajukan oleh Rainforest Action Network (RAN), International Labor Rights Forum (ILRF) dan Organisasi Penguatan dan Pengembangan Usaha-Usaha Kerakyatan (OPPUK) pada Oktober 2016.


“Keputusan RSPO untuk akhirnya menangguhkan semua sertifikat Lonsum merupakan langkah maju tapi RSPO jangan setengah hati melakukan penegakkan. RSPO juga harus menangguhkan keanggotaan Indofood sebagai perusahaan induk Lonsum sekarang, hingga bisa memulihkan pelanggaran hak-hak buruh yang terjadi secara sistematis di perkebunan mereka,” kata Herwin Nasution, Direktur Eksekutif OPPUK, lembaga Indonesia yang bergerak dalam bidang perburuhan. “RSPO tidak boleh membiarkan mereka terus mengambil keuntungan dari pemutihan pelanggaran hak buruh dibawah label “keberlanjutan” yang keliru. Buruh Indofood dan buruh perkebunan di seluruh dunia patut mengetahui bahwa hak-hak mereka akan dihormati dan ditegakkan oleh RSPO melalui sistem sertifikasi yang mengklaim kondisi kerja yang adil.”


Penangguhan sertifikat-sertifikat RSPO milik Lonsum terjadi setelah Indofood memilih keluar dari skema sertifikasi tersebut daripada mematuhi keputusan RSPO yang mengharuskan pihak perusahaan untuk memberikan rencana tindakan perbaikan terhadap pelanggaran hak buruh yang ditemukan di perkebunannya. RSPO juga memperingatkan bahwa keanggotaan perusahaan induk Lonsum, yaitu Salim Ivomas, akan dihentikan dari RSPO jika dalam waktu yang ditentukan tidak ada tindakan perbaikan. Indofood merupakan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar Indonesia dan akan menjadi kehilangan terbesar bagi keanggotaan RSPO jika sanksi tersebut diterapkan.


“Indofood telah menunjukkan warna aslinya dengan mengancam keluar dari RSPO,” kata Eric Gottwald, Deputi Direktur International Labor Rights Forum (ILRF). “Indofood memilih mundur dari kekacauannya sendiri daripada membenahi dan memperbaiki kondisi buruh yang jelas terdokumentasi. Tingkah laku seperti ini tidak bisa ditoleransi oleh pemain-pemain besar kelapa sawit dunia lainnya.”


Banyak perusahaan pembeli minyak sawit mengaku telah memutuskan hubungannya dengan Indofood sebelum sanksi tersebut diberikan, termasuk diantaranya Nestle, Musim Mas, Cargill, Fuji Oil, Hershey’s, Kellogg’s, General Mills, Unilever, dan Mars. Akan tetapi, masih banyak perusahaan lain yang memiliki hubungan usaha dengan Indofood dan membiarkan bisnisnya terus terkait dengan pelanggaran hak-hak buruh yang dilakukan Indofood, seperti PepsiCo, Wilmar dan Yum! Brands, serta investor dan peminjam modal Indofood, antara lain BlackRock, Rabobank, dan bank-bank Jepang seperti Grup SMBC, Mizuho Financial Group dan Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG).


“Sederhananya, perusahaan manapun yang masih berbisnis dengan Indofood setelah Indofood terbukti melakukan pelanggaran hak buruh yang terjadi selama bertahun-tahun telah ikut membenarkan praktik yang melanggar aturan dan membiarkan perilaku usaha yang tidak etis,” kata Robin Averbeck, Direktur Kampanye Agribisnis Rainforest Action Network (RAN). “Semua perusahaan harus memutuskan hubungan bisnisnya dengan Indofood sekarang juga.”


RAN, ILRF dan OPPUK akan terus meminta Indofood untuk segera menyelesaikan pelanggaran hak-hak buruh yang terus terjadi dan mengadopsi kebijakan ‘No Deforestation, No Peatland and No Exploitation (NDPE)’ diberlakukan untuk Indofood, keseluruhan Salim Group dan pemasok pihak ketiga.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi

Now Trending