WARTA | FILM

Velove Vexia Bermain Di Film Hujan Bulan Juni Dalami Dunia Sastra

WARTAJAKARTA / ISTIMEWA

Wartajakarta.com-Setelah cukup lama absen di dunia akting akhirnya, Velove Vexia kembali beradu akting lewat film terbaru bertajuk, Hujan Bulan Juni. Untuk berperan film yang diadaptasi dari novel karangan Sapardi Djoko Darmono ini,Ia mengaku mendalami dunia sastra.

"Saya suka sama karyanya Pak Sapardi, dia kan Shakespears-nya Indonesia. Tapi saya bukan anak yang suka sastra banget, cuma karena main film ini saya jadi mendalami lagi dunia sastra," ujar Velove Vexia, usai press screening film Hujan Bulan Juni ,beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut ia menjelaskan,"Kalau soal nervous dan takut sudah lewat, pas reading terus meeting di situ saya ada rasa enggak percaya diri. Karena kan satu sisi ini puisi yang simple tapi Indah. Saya sempet juga rasa takut, tapi saya fokus ke makna pas reading jadi jadi terasa lebih merasakan.

Velove Vexia berharap kehadiran film Hujan di Bulan Juni ini dapat mengangkat kembali karya sastra Indonesia dan mengangkat perbedaan budaya agar tetap bersatu.

Film Hujan Bulan Juni bercerita tentang Pingkan, seorang dosen Sastra Jepang Universitas Indonesia yang harus pergi ke Jepang untuk melanjutkan pendidikannya dan meninggalkan sang kekasih Sarwono di Tanah Air.

Dibintangi oleh Velove Vexia, Adipati Dolken dan Koutaro Kakimoto, film Hujan Bulan Juni akan mulai tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 2 November 2017 mendatang.
"Hujan Bulan Juni" berdasarkan novel karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul sama. Pingkan (Velove Vexia), dosen muda Sastra Jepang Universitas Indonesia mendapat kesempatan belajar ke Jepang selama 2 tahun. Sarwono (Adipati Dolken) nelangsa mendengar kabar ditinggal Pingkan, yang selama ini hampir tidak pernah lepas dari sampingnya.

Sarwono ditugaskan Kaprodinya untuk presentasi kerjasama ke Universitas Sam Ratulangi Manado. Sarwono pun membawa Pingkan sebagai pemandunya selama di Manado. Pingkan bertemu keluarga besar almarhum ayahnya yang Manado. Ia mulai dipojokkan oleh pertanyaan tentang hubungannya dengan Sarwono. Apalagi kalau bukan masalah perbedaan yang di mata mereka sangat besar. Bukannya Pingkan dan Sarwono tidak menyadarinya. Mereka sudah terlanjur nyaman menetap bertahun-tahun di dalam ruangan kedap suara bernama kasih sayang.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi

Now Trending