
Wartajakarta.com– Setelah tahun lalu sukses dengan film “Yuni”, Fourcolours Films
kembali meluncurkan produksi film panjang karya Kamila Andini yang berjudul “Before,
Now & Then (NANA)”. Film ini diadaptasi dari salah satu bab di novel JAIS DARGA
NAMAKU karya Ahda Imran. Film ini dibintangi oleh Happy Salma yang memainkan
karakter utama, Nana. Selain itu turut bermain di film ini adalah Laura Basuki, Ibnu Jamil,
Arswendy Bening Swara, Rieke Diah Pitaloka, Arawinda Kirana dan aktris cilik pendatang
baru, Chempa Putri. Film NANA diproduksi dengan lokasi di Ciwidey Jawa Barat mulai
pada Februari 2021.
“Before, Now & Then (NANA)” bercerita tentang seorang perempuan Indonesia yang hidup
di daerah Jawa Barat di era 1960-an yang diangkat dari sebuah kisah nyata kehidupan Raden
Nana Sunani. Kisah seorang perempuan yang melarikan diri dari gerombolan yang ingin
menjadikannya istri dan membuatnya kehilangan ayah dan anak. Ia lalu menjalani hidupnya
yang baru bersama seorang menak Sunda hingga bersahabat dengan salah satu perempuan
simpanan suaminya. Sesuai latar tempatnya, film ini akan menggunakan bahasa Sunda
sebagai bahasa utama yang dipakai di film.
Film “Before, Now & Then (NANA)” berhasil lolos dan terseleksi dalam program kompetisi
utama yang merupakan program inti dari festival. Total 18 film terpilih, baik dari sutradara
yang telah mapan maupun dari sutradara muda yang sedang naik daun, akan berkompetisi
untuk memperebutkan penghargaan ‘Golden Bear’ dan ‘Silver Bear’. Dengan visi merangkul
keragaman sinema dan cakupan produksinya yang luas di abad ke-21 ini, program kompetisi
ini memiliki tujuan untuk memberi kejutan, menghibur, serta memperkaya tontonan pada
para penonton dan profesional industri.
Tahun ini film “Before, Now & Then (NANA)” akan berkompetisi bersama film-film dari
pembuat film dunia ternama seperti sutradara Carla Simon, Claire Denis, Rithy Panh, Denis
Cote, Paolo Taviani, Ulrich Siedl, Andreas Dresen, Hong Sang Soo, Isaki Lacuesta, dan
François Ozon. Kamila Andini menjadi sutradara perempuan pertama Indonesia yang
berkompetisi di Berlinale sejak terakhir kali Sofia WD lewat film “Badai Selatan” di tahun
1962. Di antaranya, Edwin juga muncul di tahun 2012 lewat “Postcards from the Zoo”.
Carlo Chatrian, Artistic Director Berlinale, memberikan pujian untuk film “Before, Now &
Then (NANA)”, “Film ini adalah proyek yang sangat ambisius tanpa kehilangan perspektif
perempuan yang berhubungan dengan masa lalu Indonesia dengan pendekatan pribadi dan
orisinal. Cerita dijalin dengan perasaan yang tidak bisa kita hindari dengan cara bertutur
melodrama seiring dengan penggunaan musik”.
Lebih lanjut Carlo mengatakan bahwa film-film yang terpilih tahun ini diseleksi dengan
ketat, “Film-film Berlinale ke-72 memberikan deskripsi yang baik tentang dunia dalam
keadaannya yang berubah saat ini, tetapi juga tentang bagaimana keadaannya, dan bagaimana
seharusnya atau kemungkinannya. Dihadapkan dengan keinginan untuk memproduksi apa
yang telah kita alami (dan kita penghuni planet Bumi tidak pernah terpisah begitu jauh namun
begitu mirip dalam gaya hidup kita), banyak film telah merespons dengan kekuatan imajinasi,
humor, emosi, dan konfrontasi fisik yang terkadang penuh gairah dan terkadang dengan
kekerasan.”
Berlin International Film Festival atau dikenal juga dengan sebutan Berlinale adalah festival
film besar dunia yang mulai diadakan tahun 1951. Festival ini rutin diadakan pada bulan
Februari dengan lebih dari 65.000 pengunjung tiap tahunnya, menjadikan festival ini sebagai
salah satu festival film terbesar dunia yang sangat dinanti-nanti pelaksanaannya. Di tahun
2022 ini, Berlinale akan digelar secara offline pada tanggal 10 – 20 Februari.
Film berlatar waktu di akhir 1960-an ini membawa Kamila Andini ke eksplorasi baru dalam
perjalanan kariernya sebagai sutradara, ia menggarap film periodik yang juga diinspirasikan
dari kisah nyata. Kamila Andini berbagi ceritanya, “Film periodik Indonesia selalu terkait
dengan sesuatu yang besar atau tentang seorang tokoh penting, sedangkan ketika saya
mengerjakan ini saya ingin menceritakan seorang tokoh perempuan pada umumnya, seperti
nenek kita, kakak kita atau ibu kita, yang bisa disayangi dengan semua kekurangan dan
kelebihannya. Kebetulan saja ia hidup di masa itu. Tapi kita juga bisa berefleksi dengan masa
itu dan masih bisa terhubung dengan masa kini. Saya ingin membuat jembatan dari masa lalu
ke masa sekarang.”
Bagi Kamila Andini lebih lanjut ia mengatakan, “Perempuan adalah korban jaman yang
paling nyata. Tapi di setiap zaman, selalu ada sosok perempuan yang tidak pernah sekalipun
menjadikan dirinya korban, meskipun tetap tidak lepas dari pengorbanan. Nana adalah kisah
perempuan yang menjadi korban sebuah era; perang, politik, pemberontakan dan kehidupan
sosial patriarki yang ingin mencari arti kebebasannya sendiri.”
Untuk memperkuat suasana ada banyak unsur seni. Salah satunya penggunaan lagu berbahasa
Sunda yang diproduksi sekitar tahun 1960an yang berjudul Djaleleudja, lagu ini diproduksi
oleh Jamin Widjaja dan Indrawati Widjaja dari Bali Records (Musica Studio’s).
Gagasan untuk membuat film “Before, Now & Then (NANA)” sebenarnya sudah ada sejak
2018, namun Kamila Andini memutuskan untuk membuat “Yuni” lebih dahulu. Maka film ini
baru dikerjakan di tahun 2021 awal, di saat pandemi sedang berjalan. Meskipun begitu, ia
mengaku pengerjaannya cukup nyaman. “Film ini dibuat seperti jamming session, karena
dikerjakan dengan orang yang banyak dikenal,” jelasnya.
Untuk film panjang keempatnya, Kamila Andini kembali berpartner dengan produser Ifa
Isfansyah yang sebelumnya sukses melahirkan film YUNI yang mendapatkan penghargaan
Platform Prize di Toronto International Film Festival 2021. Ifa Isfansyah kali ini
menggandeng Gita Fara yang sebelumnya juga bekerja sama dengan Kamila Andini melalui
film “The Mirror Never Lies” (2011) dan “Sekala Niskala (2017)”.
“Tentu kami bangga, dengan masuknya NANA di kompetisi Berlinale ini merupakan
pencapaian besar untuk film Asia, terutama Asia Tenggara” ujar Ifa Isfansyah dan Gita Fara.
“Before, Now & Then (NANA)” merupakan proyek film yang disiapkan sejak tahun 2018,
diproduksi oleh Fourcolours Films yang sebelumnya memproduksi film panjang Siti, Film
Terbaik FFI 2015 karya Eddie Cahyono; Turah, film wakil Indonesia untuk Academy Awards
2017 karya Wicaksono Wisnu Legowo, dan Kucumbu Tubuh Indahku, Film Terbaik FFI
2019 karya Garin Nugroho. Dalam produksi ini Fourcolours Films bekerja sama dengan
Titimangsa Foundation. Happy Salma, pendiri sekaligus direktur dari Titimangsa juga
berperan sebagai NANA. Ia juga menduduki kursi produser pendamping untuk film ini.
Titimangsa sebelumnya banyak memproduksi seni pertunjukan seperti Rumah Kenangan,
Aku Istri Munir dan juga Bunga Penutup Abad.
Produksi film ini memperoleh dukungan pendanaan dari Purin Pictures Thailand untuk
dukungan pendanaan pasca produksi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat
untuk support produksi, dan juga berhasil memenangkan penghargaan CJ ENM Award di
Asian Project Market Busan International Film Festival 2021. Delegasi dari tim film “Before,
Now & Then (NANA)” akan bertolak ke Berlinale pada tanggal 8 Februari dengan dukungan
dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi, MLD Spot, Deltomed, dan
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Film “Before, Now & Then
(NANA)” juga didukung oleh Goodrich Suites, Artotel Portfolio untuk lokasi special media
announcement.
Untuk peredaran internasional, Wild Bunch International telah mengakuisisi ‘Before, Now &
Then (Nana)’ menjelang pemutaran perdananya di program kompetisi Berlinale 2022.
Wild Bunch International adalah sales agent yang sebelumnya sukses memasarkan film-film
besar seperti Shoplifters (Kore-eda Hirokazu), I Daniel Blake (Ken Loach), Blue is the
Warmest Color (Abdellatif Kechiche), City of God (Fernando Meirelles), The Grandmaster
(Wong Kar Wai), The Artist (Michel Hazanavicius), Climax (Gaspar Noe), 4 Month 3 Weeks
and 2 Days (Cristian Mungiu) & Capharnaum (Nadine Labaki).
Ikuti terus akun media sosial Fourcolours Films untuk mengikuti informasi terkini tentang
film NANA.
