Connect with us

Ekonomi

Hary Suwanda Hanya Korban Kemelut Kasus Forex, Ini Fakta Sebenarnya!

 

Wartajakarta.com-Kasus broker forex yang menimpa Hary Suwanda seorang motivator sekaligus pelatih investasi saham memiliki banyak versi, sehingga banyak masyarakat yang bingung dengan kebenaran dan fakta sesungguhnya dari kasus yang berujung pada OTT KPK tersebut.

Untuk mengurainya, berikut penuturan kuasa hukum Hary Suwanda, Muljo Hardijana. Hary adalah seorang motivator/trainer di bidang investasi saham dan derivative (Forex). Pertemuan pertama kali dengan Sendy Pericho (terdakwa suap kepada jaksa Kejati DKI) saat Hary menyelenggarakan workshop tentang forex. Perkenalan tersebut berlanjut dengan rencana mendirikan perusahan broker forex bernama Chase Trade Ltd.

Mengingat Hary Suwanda tidak memiliki keahlian dalam hal pendirian perusahan broker forex, maka diperkenalkanlah teman Hary yang bernama Raymond Rawung kepada Sendy Pericho. Dalam kerjasama tersebut disepakati, Sendy Pericho bertindak selaku pemodalnya dimana Hary diminta untuk menyuplai pelanggan dari peserta Workshop Forex yang diasuhnya. Untuk itu, Hary diberi pembagian keuntungan sebesar 35 % tanpa harus turut serta menyertakan modal, sementara Raymond bertindak sebagai penanggung jawab operasional mulai dari pengurusan perijinan hingga seluruh operasional perusahan.

Pada saat perusahan sudah mulai berjalan, disamping berinvestasi mendirikan perusahan broker forex tersebut, ternyata Sendy juga mentransfer dana untuk trading pribadinya sendiri di Chase Trade Ltd. Namun dalam perkembangan berikutnya, Sendy kurang beruntung dan mengalami kerugian bahkan hingga account-nya habis.

Muljo menyampaikan, setelah berjalan beberapa bulan, Raymond terlibat perkara pidana, di luar bisnis Chase Trade Ltd. dan dipenjarakan. Penahanan tersebut, membuat operasional perusahan menjadi terganggu, mengingat kapasitasnya selaku penanggung jawab operasional. Singkat cerita Perusahan tersebut terpaksa tutup.

Merasa dirugikan, Sendy menuntut ganti rugi kepada Hary, dan kendatipun sudah melenceng dari kesepakatan, dimana Hary diberikan saham kosong 35%, namun demi nama baik, dan menjaga hubungan selama ini, Hary membayar ganti rugi kepada Sendy sebesar USD 175,000.- yakni sesuai proporsi kepemilikan sahamnya di Chase Trade, Ltd.

Namun Sendy tidak puas, dan menggugat Hary dan Raymond Rawung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Putusan Pengadilan Negeri Jakrta Selatan menolak gugatan ganti rugi Sendy Pericho sebesar Rp. 13,7 milyar. Atas putusan tersebut Sendy Pericho melakukan upaya hukum banding pada Pengadilan Tinggi DKI. Pengadilan Tinggi DKI menguatkan putusan PN Jakarta Selatan dan atas putusan banding tersebut Sendy tidak melakukan kasasi, sehingga putusan menjadi berkekuatan hukum pasti.

Selain mengajukan gugatan, Sendy melaporkan ke Polda Metro Jaya dengan persangkaan melanggar pasal 372 KUHP dan pasal 378 KUHP. Laporan itu dilakukannya setelah menerima ganti rugi dari Hary Suwanda sebesar USD 175,000.- pada Januari 2014. Laporan polisi Sendy Pericho awalnya ditangani di Subdit Harda Polda Metro Jaya. Setelah berjalan 4 (empat) tahun akhirnya perkara tersebut dipindahkan di Subdit Resmob Unit IV Polda Metro Jaya. Setelah dipindahkan di Unit IV Resmob tersebut, pasal persangkaan di tambahkan pasal TPPU (Tindak Pidana Pencucian uang). Perkara ini kemudian dilimpahkan ke Kejati DKI, pada tanggal 05 Maret 2019. Di dalam dakwaan JPU yang dibacakan pada Sidang di Pengadilan negeri Jakarta Barat tanggal 26 maret 2019, JPU mendakwa nilai kerugian sebesar Rp. 510.000.000,-.

Dipertengahan proses pemeriksaan tersebut terjadi perundingan untuk damai dan Sendy Pericho sempat dipertemukan di RUTAN Salemba dengan Hary Suwanda. Pada saat pertemuan Sendy sempat mengancam akan memberatkan tuntutannya kepada Hary selama 7 (tujuh) tahun jika ia tidak bersedia mengganti seluruh kerugian investasi dan trading Sendy di Chase Trade Ltd.

Muljo melanjutkan, awalnya ganti rugi disepakati sebesar Rp. 8 miliar, namun berubah menjadi Rp. 11 miliar dengan janji tuntutan terhadap Hary Suwanda akan diturunkan sehingga putusannya dipaskan dengan masa tahanan yang sudah dijalani.

“Oleh karena permintaan ganti rugi tidak lagi dapat ditawar, maka 22 Mei 2019 ditandatangani perjanjian perdamaian dimana Hary diwakili kuasa hukumnya, Sukiman Sugita. Hary membayar tunai sebesar 50% dari nilai kerugian yang dituntut Sendy, dan 50% sisanya diberikan jaminan berupa Sertifikat Ruko di Thamrin Residence Office Park,” tutu Muljo.

Dalam pemeriksaan saksi di Sidang Tipikor terkait OTT KPK terhadap Penyuap Aspidum Kejati DKI, terungkap Alexander Sukiman Sugita adalah Penasehat Hukum Hary yang juga teman dekat Alfin Suherman (pengacara Sendy), yang menginformasikan kepada Hary bahwa Sendy sudah membayar JPU 400 juta guna memperberat tuntutan Jaksa terhadap Hary. Dia juga yang menginformasikan kepada rekannya Heru Soesanto Putra, bahwa Sendy dan Alfin Suherman sudah membayar jaksa sebesar 500 juta.

Lebih lanjut Muljo mengungkapkan, saat diperiksa sebagai saksi Sendy meminta Hary dihukum seringan-ringannya, karena sudah ada perdamaian. Setelah proses berjalan selanjutnya giliran Jaksa pada tanggal, 10 Juni 2019 melakukan tuntutan, akan tetapi ternyata Jaksa belum siap dan sidang ditunda tanggal 17 Juni 2019 . Sekalipun sudah ditunda satu minggu, jaksa juga masih belum siap dengan tuntutannya, kembali ditunda lagi satu minggu sampai dengan tanggal, 24 Juni 2019, lagi-lagi jaksa juga belum siap tuntutan.

“Ternyata pada 27 Juni 2019 terjadi peristiwa OTT terhadap Alfin Suherman, Pengacara Sendy Pericho dan Jaksa yang berwenang untuk menentukan besarnya tuntutan. Sendy Pericho diberitakan menyerahkan diri ke KPK keesokan harinya. Sekalipun Hary telah membayar kepada Sendy Pericho sebesar Rp. 5.500.000.000,- (merupakan sebagian dari ganti rugi yang harus dibayar yaitu seluruhnya sebesar Rp. 11.000.000.000,-) ditambah lagi dengan ganti rugi yang sudah dibayarkannya jauh sebelum adanya laporan pidana maupun gugatan perdata, sebesar USD 175.000,-, Hary Suwanda ternyata tetap dituntut 2 tahun penjara.” ucap Muljo.

Seluruh ganti rugi yang dibayar oleh Hary Suwanda bila dibanding dengan kerugian yang didakwakan jaksa yaitu sebesar Rp. 510.000.000,- , adalah sebesar 2.623 %/dua ribu enam ratus dua puluh tiga persen dari kerugian yang didakwakan Jaksa atau 26 kali lipat. “Secara logika, bagaimana mungkin seseorang bisa membayar ganti rugi dengan nilai sebesar 26 kali lipat dari nilai yang didakwakan tanpa adanya suatu ancaman. Fakta tersebut yang sesungguhnya terjadi dan dialami oleh Hary Suwanda,” ucap Muljo.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Ekonomi