Connect with us

Jakarta

Saliphobia: Antara UAS Dan Salibnya

Wartajakarta.com-Dhimas Anugrah
Ketua DPN GO INDONESIA
Bid. Kerukunan Umat Beragama dan Kepercayaan.Konten video Ustadz A. Somad (UAS) tentang salib dan jin kafir menuai kritik dan beragam respons negatif lainnya dari berbagai elemen masyarakat.

Hal tersebut memang bisa dimaklumi, karena UAS dinilai tidak peka terhadap simbol suci agama. Sekalipun disampaikan dalam acara tertutup, tetapi jika melihat cara ustadz tersebut melontarkan opininya yang disertai mimik merendahkan dan disambut tawa meremehkan dari pendengarnya, hal itu tentu saja menggores perasaan umat Kristen (yang mencakup Katolik, Protestan, Ortodoks Timur, Pentakosta, Advent dan Karismatik)
yang memiliki salib sebagai simbol agamanya.

Tentu, banyak di antara umat Kristen yang tegar mendengar ujaran sinis UAS, tetapi banyak pula warga jemaah Kristen yang mendidih hati lembutnya dan terluka saat simbol dan junjungannya dilecehkan.

Hati yang terluka sudah tak terhindarkan lagi. Sebab, ujaran dan ajaran UAS tentang salib sudah terlanjur melayang-layang di udara dan akan terus menciderai hati umat gerejawi.

Dengan kacamata hermeneutika apa UAS melihat salib?

UAS tampaknya lupa akan ayat suci yang mengatakan,

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. 6:108)

Bayangkan jika junjungan Islam, Allah dan Nabi Muhammad SAW dilecehkan seperti apa yang UAS perbuat terhadap salib dan Yesus Kristus. Itu pasti akan sangat mengiris perasaan umat Muslim.

Ujaran dan ajaran UAS tentang salib sebagai simbol suci umat Kristen seperti dalam video yang beredar itu memiliki implikasi yang sangat serius, yaitu dugaan penistaan, perendahan, diskriminasi, intoleransi dan, yang paling menakutkan, meningkatnya sentimen antarumat beragama di Indonesia.

Situasi yang ditumbulkan oleh UAS ini harus segera dicari solusinya agar tidak berlarut-larut dan melahirkan luka yang menganga di hati umat pengikut Yesus Kristus. Para sarjana Islam Indonesia turut diundang untuk berani mengajukan wacana tanding atas konservatisme hukum Islam (fiqh) menyangkut salib.

Video UAS tentang salib juga mengundang rasa sedih dari rakyat secara umum, manakala mereka tahu bahwa negara, melalui pajak yang mereka bayar, telah mengeluarkan triliunan rupiah guna membiayai beasiswa ribuan sarjana Muslim agar lebih rasional dan berani bertindak adil, tetapi diciderai oleh drama “UAS dan salibnya.”

UAS dan salibnya seakan hendak menjadikan banyak Muslim bak drakula dan vampire dalam film-film Hollywood. Keduanya ketakutan atau kerap lari ketika salib disorongkan ke muka mereka. Menggelikan.

Mungkin saja ketakutan banyak orang beragama Islam terhadap salib lebih dikarenakan dogma klasik berbasis pengalaman masa lalu. Oleh sebab itu cara alternatif untuk mematahkan dogma tersebut adalah melalui pengenalan dan perjumpaan serta membangun “mutual respect” Islam-Kristen secara terus menerus.

Dan secara khusus untuk masalah “UAS dan salibnya,” sebaiknya UAS melakukan tabayyun kepada umat Kristen yang telah terlanjur ia lukai. Kita optimis bahwa Indonesia takkan terpecah karena drama “UAS dan Salibnya,” tetapi agar celah itu tidak terbuka, maka UAS perlu segera tabbayun ke umat Kristen melalui KWI, PGI, dan PGLII.

#generasioptimisindonesia
#salamoptimis
#kerukunanumatberagama

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Jakarta