Connect with us

Nasional

Diskusi Satupena, Ahmad Junaidi: Ujaran Kebencian Tak Cuma Berbasis Agama, Tapi Juga Identitas Gender dan Seksual

Wartajakarta.com-Kemungkinan polarisasi atau pembelahan masyarakat, lewat ujaran kebencian yang berbasis identitas agama, dalam pemilu 2024 relatif kecil. Tetapi muncul ujaran kebencian yang menyasar identitas gender atau seksual. Hal itu disampaikan oleh Ahmad Junaidi.

Ahmad Junaidi adalah Direktur Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK). Ia adalah pembicara dalam diskusi bertema Media dan Narasi Kebencian di Tahun Politik. Diskusi itu berlangsung di Jakarta, Kamis malam, 14 September 2023.

Diskusi yang menghadirkan Ahmad Junaidi itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai Denny JA. Diskusi webinar itu dipandu oleh Anick HT.

Ahmad Junaidi menuturkan, ujaran kebencian berbasis identitas agama mungkin tak akan terlalu parah menyerang antar-kandidat pada pemilu dan pilpres 2024.

“Tetapi sekarang mulai muncul ujaran-ujaran kebencian yang berbasis identitas gender, identitas seksual. Terlihat para buzzer mulai menggunakan isu-isu itu, meski belum secara eksplisit,” ujar mantan wartawan The Jakarta Post ini.

Menurut Ahmad Junaidi, yang akrab dipanggil “Alex” ini, ada kelompok-kelompok komunitas rentan yang menjadi sasaran, seperti kaum LGBT.

Di daerah-daerah mulai muncul perda yang anti-LGBT. “Isu ini menjadi bahan untuk menyerang kelompok tertentu, dan atau untuk menarik pendukung,” tutur pengajar ilmu komunikasi di Universitas Tarumanegara ini.

Ahmad Junaidi juga mengomentari fenomena di media sosial dan media daring saat ini. “Di twitter, banyak orang men-share berita-berita dari media yang tidak jelas. Media itu kelihatannya seperti baru dibentuk,” tuturnya.

Berita dan pilihan judulnya menunjukkan, media itu terkesan menyerang lawan politik. “Media itu mungkin tidak punya afiliasi politik tertentu, tetapi cara pemberitaan ini untuk mencari klik dan iklan AdSense,” lanjut Ahmad.

Persoalan kita saat ini, kata Ahmad, media online itu ada ribuan jumlahnya. “Mereka harus hidup dan memperoleh profit. Maka mutu media pun menurun dan ujaran kebencian merebak,” ucapnya.

Ahmad menunjukkan, banyak wartawan itu malas dan tidak kreatif. Sering diksi-diksi atau term agama yang dipakai adalah hasil copy paste begitu saja.

Wartawan sekadar ingin cepat. Mereka tak punya waktu untuk belajar menulis. Di media online, satu wartawan ditarget 5 – 10 berita per hari. Redakturnya bisa mengedit puluhan berita.

“Jadi berita yang ngawur pun sering lolos. Ini karena redaktur tidak membaca berita dengan cermat, apakah kontennya itu sudah memenuhi kaidah jurnalistik atau belum,” ungkap Ahmad. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

More in Nasional