WartaJakarta.com – Jakarta
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan generasi muda Indonesia. Di usianya yang baru menginjak 8 tahun, Eza Azka Rafasya, siswa kelas 2 SDN Sunter Jaya 09 Jakarta Utara, telah menunjukkan bahwa kegemaran belajar sejak dini dapat menjadi jalan untuk meraih berbagai prestasi.
Putra pasangan Aditya Eka Susila dan Ratna ini dikenal memiliki kecintaan terhadap matematika. Menariknya, ketertarikan tersebut sudah tumbuh sejak Eza berusia sekitar 3,5 tahun.
Berawal dari kegemarannya menghitung angka, orang tua Eza kemudian memberikan kesempatan untuk mengikuti les. Bukannya merasa terbebani, Eza justru semakin menikmati proses belajar tersebut.
“Dari kecil Eza memang suka berhitung. Karena melihat dia senang, saya sebagai orang tua kemudian memasukkan Eza ke les. Sampai sekarang, belajar matematika dan mengikuti lomba sudah menjadi kebiasaan Eza,” ungkap orang tua Eza.
Bagi Eza, matematika bukan pelajaran yang harus ditakuti. Sebaliknya, soal-soal yang membutuhkan kecepatan berpikir justru menjadi tantangan yang membuatnya semakin tertarik.
Salah satu kemampuan yang paling disukainya adalah hitung cepat. Ketika menemukan soal yang sulit, Eza terbiasa mencoba menyelesaikannya sendiri terlebih dahulu. Jika belum menemukan jawabannya, barulah ia bertanya kepada sang papa.
Kebiasaan sederhana tersebut menjadi bagian penting dalam proses Eza membangun kemandirian belajar.
Bangga Saat Meraih Penghargaan
Perjalanan Eza mengikuti berbagai kompetisi matematika tentu tidak selalu berjalan tanpa rasa gugup. Ia mengaku pernah merasa takut salah dan khawatir kalah ketika mengikuti perlombaan.
Namun, dukungan kedua orang tua selalu menjadi penyemangat.
“Tidak apa-apa, yang penting sudah mencoba,” menjadi pesan yang terus diberikan kepada Eza.
Pesan tersebut perlahan mengajarkan Eza bahwa kompetisi bukan semata-mata tentang menang atau kalah. Lebih dari itu, lomba menjadi kesempatan untuk berani mencoba, belajar menghadapi tantangan, dan menikmati proses.
Semangat tersebut kemudian membuahkan kebanggaan ketika nama Eza tercatat sebagai salah satu penerima Anak Indonesia Awards 2026. Eza pun mengaku sangat bangga mendapatkan penghargaan tersebut. “Bangga sekali karena apa yang dilakukan selama ini akhirnya membuahkan hasil,” ujar Eza.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika mengikuti Olimpiade Matematika tingkat nasional dan berhasil meraih Medali Perak.
Meski telah memiliki pengalaman mengikuti berbagai olimpiade, Eza tetap tidak ingin berhenti belajar. Ia selalu berusaha mempersiapkan diri sebelum mengikuti kompetisi.
“Saya sudah terbiasa ikut Olimpiade, jadi saya yakin soalnya mungkin tidak terlalu sulit. Tapi saya tetap belajar sebelum Olimpiade supaya nilai saya tetap bertahan,” tutur Eza,kepada WartaJakarta, Selasa (8/9) 2026 di Jakarta.
Nilai Sempurna 100, Langkah Menuju Tingkat Kota
Di usianya yang masih sangat muda, Eza berhasil memperoleh nilai sempurna 100 pada babak penyisihan Olimpiade Matematika, Sains, dan Bahasa Inggris yang diselenggarakan Chaanakya Ekadanta Academy di Bulan Agustus Kemarin .
Hasil tersebut mengantarkan Eza melaju ke tingkat kota.
Bagi keluarga, pencapaian tersebut bukan sekadar angka 100. Di balik nilai sempurna itu terdapat proses belajar, kedisiplinan, keberanian mencoba, serta dukungan orang tua yang terus diberikan.
Sebuah langkah kecil yang memiliki makna besar. Dari proses seperti inilah generasi muda Indonesia diharapkan terus tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, percaya diri, berani menghadapi tantangan, dan pantang menyerah.
Tak Hanya Matematika, Eza Juga Menyukai Sains dan Budaya
Menariknya, kecintaan Eza terhadap dunia akademik tidak hanya berhenti pada matematika.
Ia juga menyukai pelajaran Sains. Menurut Eza, Sains memberikan tantangan tersendiri yang membuatnya semakin tertarik untuk belajar dan menemukan hal-hal baru.
Di luar bidang akademik, Eza juga memiliki kedekatan dengan budaya Indonesia.
Sebagai Abang Budaya Cilik, Eza memiliki kesempatan untuk mengenal sekaligus ikut memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada teman-teman seusianya.
Salah satu hal yang paling disukainya adalah makanan khas Betawi.
Bagi Eza, menjadi anak berprestasi bukan hanya tentang mendapatkan nilai tinggi atau mengumpulkan medali. Ada hal lain yang juga penting, yakni mengenal identitas bangsa dan ikut menjaga budaya Indonesia.
Sempoa dan Pola Belajar yang Teratur
Di balik kemampuan Eza, terdapat peran kedua orang tua yang secara konsisten memberikan pendampingan.
Orang tua menerapkan kedisiplinan dalam belajar, termasuk menghadirkan guru privat untuk membantu Eza dalam bidang akademik. Pendidikan sempoa juga menjadi salah satu pilihan untuk membantu Eza memahami konsep berhitung dan mengembangkan kemampuan hitung cepat. Namun, bagi keluarga Eza, pendidikan bukan berarti membuat anak harus terus belajar tanpa memiliki waktu bermain.
Jadwal sekolah, les, belajar dan kegiatan lainnya diatur sedemikian rupa agar tetap seimbang. Ketika akan mengikuti kompetisi, Eza mempersiapkan diri dengan belajar terlebih dahulu. Setelah itu, ia tetap memiliki kesempatan untuk bermain dan menikmati masa kanak-kanaknya.
Setiap proses belajar dan pencapaian yang diraih pun selalu diberikan apresiasi oleh orang tua.
Prestasi Bukan Tujuan Utama
Bagi keluarga Eza, prestasi bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan seorang anak.
Yang jauh lebih penting adalah proses yang dilalui. Melalui proses tersebut, Eza belajar menghadapi tantangan, merasakan kegagalan maupun keberhasilan, serta memahami arti perjuangan.
Orang tua bahkan pernah bertanya langsung kepada Eza apakah dirinya menikmati berbagai kegiatan lomba yang diikuti.
Jawabannya sederhana: Eza merasa senang
Jawaban tersebut menjadi keyakinan bagi orang tua bahwa berbagai kompetisi yang dijalani Eza bukanlah sebuah tekanan. Justru, kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari pola belajar yang ia nikmati sejak kecil.
Bercita-Cita Membuka Les Matematika
Untuk masa depan, Eza ternyata sudah memiliki cita-cita yang cukup menarik. Ia ingin membuka tempat les matematika sekaligus menjadi seorang pengusaha.
Cita-cita tersebut menunjukkan bahwa Eza tidak hanya ingin mengembangkan kemampuan berhitung untuk dirinya sendiri. Ia juga memiliki keinginan untuk berbagi ilmu dengan anak-anak lainnya.
Ketika ditanya mengenai pesan untuk teman-temannya yang merasa matematika itu sulit, Eza memberikan jawaban sederhana namun penuh semangat.
“Jangan takut. Matematika itu tidak sulit, tapi seru.”
Kalimat tersebut seolah menjadi gambaran perjalanan Eza sendiri.
Berawal dari rasa suka berhitung sejak usia 3,5 tahun, kemudian belajar secara disiplin, mengikuti berbagai kompetisi, meraih Medali Perak Olimpiade Matematika tingkat nasional, mendapatkan nilai sempurna 100 pada babak penyisihan Olimpiade Matematika, Sains, dan Bahasa Inggris, hingga akhirnya menerima Anak Indonesia Awards 2026 di usia 8 tahun. Namun, di balik semua pencapaian tersebut, ada harapan yang jauh lebih besar dari kedua orang tuanya.
Mereka tidak semata-mata berharap Eza terus mengumpulkan medali atau penghargaan. Lebih dari itu, mereka ingin Eza tumbuh menjadi anak yang saleh, baik kepada teman, disiplin, rajin belajar, serta tetap menjalankan ibadah.
Karena bagi keluarga Eza, prestasi adalah bonus dari sebuah proses
Yang terpenting adalah bagaimana seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, memiliki rasa ingin tahu, berani mencoba, mampu menghargai proses, dan tetap menikmati perjalanan belajarnya.
Dan mungkin, suatu hari nanti ketika Eza melihat kembali perjalanan panjangnya sejak usia 3,5 tahun hingga meraih Anak Indonesia Awards 2026, ada satu kalimat sederhana yang pantas ia sampaikan kepada dirinya sendiri:
“Terima kasih sudah berani mencoba, terus belajar, dan membuat Mama Papa bangga.”