Connect with us

Nasional

Giat Pulang Kampung: Percikan Hikmah dan Ungkap Syukur Hari Besar Kurban

Wartajakarta.com

Oleh Pj Bupati Jombang Sugiat, S.Sos, M.Psi.T

Menyambut Hari Raya Idul Adha 1445 H atau 2024 Masehi ijinkan saya berbagi tulisan.

Idul Adha kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Karena saya merayakan di tanah kelahiran sendiri Jombang.

Sebuah berkah tersendiri dari Allah SWT karena telah diberikan kesempatan untuk menjadi Pj Bupati di tanah kelahiran saya sendiri Kabupaten Jombang.

Setelah 30 tahun lebih saya berkarir di luar Jombang kembali ke Jombang menjadi berkah tersendiri dan tentunya banyak hikmah dari setiap kejadian yang bisa dimaknai.

Mengapa perlu dimaknai, sebab hanya dengan kemampuan memaknai lah segala sesuatu yang kita dapatkan dari Allah SWT akan dapat kita syukuri.

Tiada khidmat syukur dapat kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa tanpa adanya kemampuan memaknai segala sesuatu yang kita dapati.

Setidaknya inilah makna dari hikmah dan sekaligus ungkap syukur saya karena telah mendapat kesempatan merayakan Idul Adha tahun ini di kampung halaman sendiri.

Rasanya tak henti untuk bersyukur dan berbagi yang dapat segiat mungkin kita berikan untuk tanah kelahiran kita tercinta, Bumi Jombang.

Tentu apa yang saya rasakan itu juga seringkali dirasakan teman-teman, terutama sanak kadang saya warga Kabupaten Jombang perantauan.

Saya merasakan apa yang teman-teman rasakan.
Betapa di hati kecil kita tentu seringkali terbersit rasa rindu kepada kampung halaman terutama saat kita merasakan jauh dari kampung halaman kita sendiri.

Kerinduan saat kita jauh tentu berbeda dengan saat kita berada di tempat yang dekat.

Kepada teman-teman masa kecil bermain di desa, teman mandi di kali, main petak umpet di malam bulan purnama, teman cangkrukan begadang sambil ngopi.
Hingga teman-teman saat SMP dan SMA, semuanya kita punya teman yang dulu cantik-cantik dan ganteng.

Sekarang kebanyakan sudah menjadi bapak ibu atau kakek nenek.

Usia tak bisa berbohong namun kenangan akan selalu hadir seperti saat dulu kenangan itu tumbuh.

Satu demi satu sahabat telah pergi, dan lingkungan alam telah berubah tidak seperti dulu lagi.

Maka saat secara fisik badan ini bisa kembali ke kampung halaman tidak ada yang pantas diungkapkan selain rasa syukur kepada Allah SWT.

Tetapi bukankah ungkap syukur yang terbaik itu adalah berbuat yang terbaik?

Saya kadang bertanya dalam hati. Ya, kembali saya bersyukur karena kedua orang tua saya memberikan nama Sugiat.

Su artinya baik dan giat artinya gigih atau tekun. Gigih berbuat kebaikan.

Giat agawe becik, itulah doa kedua orang tua dalam nama saya, sekaligus saya maknai sebagai kewajiban personal saya untuk giat amal sosial sekaligus bentuk ungkap syukur saya.

Terlebih di Hari Raya Idul Adha tahun ini, yang saya rasakan dan alami di kampung halaman sendiri.

Semua itu tentu tidak akan terjadi jika saya tidak diberikan kesempatan oleh Allah SWT pulang kampung.

Setiap waktu saya merenung, apa sebenarnya tugas lelaku saya selanjutnya ketika Allah SWT berikan saya kesempatan pulang kampung dan menjadi Pj Bupati di Jombang. Itu pikiran saya selama ini.

Sambil terus mencari jawaban dan terus bergiat memberikan yang terbaik untuk Jombang.

Saya memberikan makna untuk kesempatan yang telah Allah SWT berikan itu dengan saya sekarang pulang kampung.

Saya merasa tersanjung sekaligus dipaksa mikir ketika beberapa tokoh Jombang yang saya jumpai.

Seperti Kiyai Masduqi, Kiyai Tar, Kiyai Cholil, Gus Kikin, Gus Irfan, Gus Zuem, Gus Fatkur, para alim ulama.

Juga teman-teman kepala desa, para guru dan kepala sekolah, kadang tani, buruh/pekerja, barista.

Begitupun anak-anak muda pegiat sosial, aktivis LSM dan ormas, pendeta, hingga penghayat dan pertapa juga ada di Jombang ini.

Tak terkecuali ibu-ibu pengajian, dokter, perawat yang semuanya memberi masukan Pak Pj punya pengalaman karir di luar sampai level nasional mbok ya dipakai untuk mbangun Jombang.

Terus terang saya terharu, bahkan meneteskan air mata.

Siapalah saya ini, hanyalah seorang anak desa yang merantau mencari peruntungan hingga Jakarta.

Bisa apa saya ini kok diberikan harapan seperti itu. Namun demikian semua itu bagi saya bukanlah sekedar harapan, tetapi amanah suci.

Oleh karena itu, sudah menjadi tekad yang kuat untuk berikan yang terbaik, korbankan tenaga, pikiran, bahkan kepentingan keluarga sekalipun, demi untuk bisa wujudkan amanah mereka.

Meski tidak tahu persis berapa waktu tersisa untuk saya bisa berikan yang terbaik.
Selama masih ada waktu, satu detik pun jika itu membawa manfaat untuk kebaikan dan perbaikan Jombang, maka wajib bagi saya mengerjakannya.

Keinginan masyarakat untuk saya bisa ikut ndandani (memajukan) kampung halaman tentu perlu tekad yang kuat, hati bersih dan tulus, serta pengorbanan.

Saya bersyukur memiliki pangkat dan kedudukan di Badan Intelijen Negara (BIN) yang kalau disetarakan dengan kepangkatan di TNI itu setara jenderal bintang satu.

Kendati demikian saya terpanggil pulang kampung meski ibarat Naga Bonar saya turun pangkat menjadi Pj Bupati itu setara Kolonel.

Tapi Jombang adalah kampung halaman saya yang tidak mungkin dilupakan.

Kembali ke kampung halaman adalah sebuah impian.

Namun siapa yang pernah menyangka kembali ke kampung halaman menjadi orang nomor satu dan bertugas menjalankan laku pemerintahan daerah.

Kalau itu direncanakan maka nyaris sebuah hal yang sangat mustahil, namun jika Allah SWT sudah berkehendak tidak ada yang bisa menolak.

Lahir di Jombang adalah sebuah takdir. Dari kecil hingga remaja hidup dalam kesederhanaan adalah makanan keseharian.

Pergi ke sawah membantu orang tua untuk memanen padi tetangga adalah hal biasa.

Bahkan memanen padi di sawah milik orang yang kelak menjadi mertua.

Sebuah kenangan yang indah meski saat dulu menjalaninya terasa susah.

Semua saat sudah menjadi kenangan asalkan sesuatu itu baik maka pasti menyisakan memori yang indah.

Meninggalkan kampung halaman merantau ke tanah orang adalah sebuah pengorbanan untuk merubah nasib dan takdir sejarah.

Kini ketika nasib itu sudah berubah sekalipun, namun yang namanya pengorbanan tetaplah masih dibutuhkan dengan kadar dan tingkatan yang berbeda.

Kembali ke kampung halaman untuk membangun kembali kampung halamannya adalah berkah sekaligus amanah yang tentu butuh pengorbanan dalam memperjuangkannya.

Saya dari dulu suka membaca kisah nabi-nabi. Idul Adha ini mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim AS.

Demi tauhid keimanannya kepada Allah SWT hingga ia rela ketika diperintahkan menyembelih anak kandungnya sendiri.

Kesetiaan dan taqwanya kepada Allah SWT membuatnya ikhlas rela berkorban dan siap menyembelih anak kandungnya sendiri.

Namun keajaiban diturunkan Allah SWT seketika, sang putra Ibrahim dirubah menjadi domba saat pedang Ibrahim AS hampir nenyembelihnya.

Kembali kepada pemaknaan, maka pertolongan Allah SWT pasti hadir saat kita yakin kepada Allah SWT satu satunya yang wajib disembah dan diikuti perintahnya dan meniadakan ego diri kita (berkorban) menghilangkan ego.
Dengan ikhlas, penuh rasa syukur, dan keharusan siap berkorban saya pulang kampung.

Dan saya mengajak sanak kadang Jombang perantauan, untuk sering-seringlah pulang kampung. Kini akses dan transportasi sudah mudah, beda seperti dulu.

Giat pulang kampung dan kita bangun Jombang lebih maju untuk wujudkan kesejahteraan masyarakat sanak kadang kita di Jombang. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

More in Nasional