Wartajakarta.com– Tangerang,Tidak sedikit pihak yang khawatir dengan adanya kemunduran agenda transisi energi, terlebih dengan berbagai perkembangan dan kondisi geopolitik yang penuh dengan ketidakpastian seperti sekarang. Namun program transisi energi yang dicanangkan oleh berbagai negara diprediksi tetap akan berlanjut yang ditandai dengan tetap tingginya peningkatan terhadap permintaan gas.
Laporan kuartal terbaru International Energy Agency (IEA) memprediksi pasar gas alam global akan tetap ketat selama dua tahun ke depan. Meskipun tantangan terlihat semakin besar,fundamental industri tetap mengarah pada gas alam yang akan terus menjadi komponen penting dalam bauran energi di dunia.
Pada periode yang sama tahun lalu, IEA memprediksi pasokan energi akan meningkat 7 persen pada 2026. Dengan berbagai proyek baru yang mulai beroperasi dan pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat di tengah tantangan saat ini, dinamika tersebut masih berlangsung.
Mansoor Mohamed Al Hamed, CEO Mubadala Energi, mengungkapkan fundamental transisi energi tetap sama dengan memanfaatkan gas yang memiliki emisi lebih rendah ketimbang energi fosil lainnya.
“Kita harus menurunkan emisi, memperluas energi terbarukan, dan melakukan dekarbonisasi. Namun, gas yang melimpah, andal, dan beremisi lebih rendah tetap akan menjadi bagian penting dari bauran energi,” jelas Mansoor sesi Global Executive Talk bertema The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas di IPA Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, di dunia yang penuh dengan volatilitas, gas berfungsi sekaligus sebagai bahan bakar transisi dan bahan bakar ketahanan energi.
Mansoor juga menegaskan komitmen Mubadala Energy dalam mempercepat pengembangan proyek gas di Laut Andaman, Indonesia, di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tingginya ketidakpastian geopolitik global. “Indonesia memiliki peluang luar biasa, mulai dari peningkatan permintaan energi, posisi geografis strategis, hingga potensi besar sumber daya laut dalam,” ujar Mansoor.
Oki Muraza, Wakil Direktur Utama Pertamina, mengungkapkan era energi mudah memang telah berlalu, namun, ia menilai peluang Indonesia justru tetap lebih besar. “Indonesia masih menawarkan peluang energi yang luar biasa,” ungkap Oki.
Salah satu peluang besar yang paling memungkinkan untuk segera dikembangkan adalah keberadaan sumber daya nonkonvensional. Namun untuk bisa memonetisasi dukungan pemerintah sangat dibutuhkan.
“Indonesia baru saja menemukan sekitar 11 miliar barel oil in place untuk sumber daya nonkonvensional. Tantangan kita saat ini adalah bagaimana melakukan advokasi kepada pemerintah agar tersedia dukungan fiskal yang memadai,” jelas Oki.
Sementara itu, Roberto Lorato, Direktur dan CEO Medco Energi mengungkapkan gas mampu menggantikan batu bara, mendukung kestabilan energi terbarukan yang sifatnya intermiten, serta memenuhi kebutuhan di pasar yang permintaan listriknya masih tumbuh jauh lebih cepat.
Roberto juga memprediksi transisi energi di Indonesia dan sebagian besar di kawasan Asia akan ditopang oleh keberadaan gas. “Transisi energi di kawasan ini akan dibangun melalui kombinasi gas dan energi terbarukan, bukan melalui pendekatan yang bersifat ekstrem,” jelasnya.
Indonesia dan kawasan Asia secara lebih luas masih membutuhkan lebih banyak investasi hulu migas. Karena itu, Medco bakal terus mengalokasikan modal di sektor ini sambil secara bertahap mengembangkan proyek Energi Baru Terbarukan (EBT). “Keduanya bukanlah sesuatu yang saling bertentangan, melainkan sama-sama dibutuhkan untuk masa depan energi,” ungkap Roberto.