Connect with us

Nasional

Satrio Arismunandar: Pemikiran Geopolitik Sukarno Telah Diangkat Kembali Relevansinya oleh Hasto Kristiyanto

Wartajakarta.com- Pemikiran geopolitik Sukarno, yang sangat maju pada zamannya, telah diangkat kembali relevansinya di masa kini oleh Hasto Kristiyanto. Hal itu dikatakan Sekjen SATUPENA, Dr. Ir. Satrio Arismunandar.

Satrio Arismunandar mengomentari diskusi tentang pemikiran Bung Karno dan kontekstualisasinya dengan Indonesia masa kini. Diskusi di Jakarta, Kamis malam, 1 Februari 2024 itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai penulis senior Denny JA.

Diskusi yang dikomentari Satrio Arismunandar itu menghadirkan penulis, dosen, dan pengamat politik Airlangga Pribadi Kusman sebagai nara sumber. Diskusi itu dipandu oleh Anick HT dan Swary Utami Dewi.

Menurut Satrio, ia bersyukur bahwa di saat sekarang masih ada ilmuwan dan politisi yang mau menggali ajaran dan pemikiran Sukarno. Salah satunya Hasto Kristiyanto, yang kebetulan saat ini menjabat Sekjen PDI Perjuangan.

“Penggalian pemikiran Sukarno itu bukan untuk sekadar bernostalgia atau ekspresi romantisme. Tetapi pemikiran Sukarno itu memang masih relevan dan jelas kontekstualisasinya dengan kondisi dunia sekarang,” tutur Satrio.

Satrio menyatakan, Hasto Kristiyanto pada 6 Juni 2022 telah berhasil mempertahankan disertasi doktornya di Universitas Pertahanan, dengan judul “Diskursus Pemikiran Geopolitik Sukarno Dan Relevansinya Terhadap Pertahanan Negara”.

“Disertasi ini adalah penemuan kembali (rediscovery) pemikiran Sukarno. Di dalamnya ada analisis ilmiah tentang kekuatan ideologis geopolitik Sukarno dan kekuatan diplomasi Bung Karno,” jelas Satrio.

“Semua itu dalam tujuan Sukarno untuk menyusun tatanan dunia baru, di mana solidaritas bangsa-bangsa dikedepankan dan struktur PBB harus diubah, agar sistem internasional tidak lagi anarkis,” lanjut Satrio.

Menurut Satrio, gagasan itu masih relevan dan kontekstual dengan kondisi global sekarang. Contohnya, Dewan Keamanan PBB, yang memiliki lima anggota tetap dengan hak veto, terbukti gagal meredam serangan Israel yang membabi buta dan memakan 25.000 jiwa warga sipil di Jalur Gaza, Palestina.

Struktur Dewan Keamanan PBB saat ini, kata Satrio, adalah warisan Perang Dunia II. Pemegang hak veto adalah negara-negara pemenang Perang Dunia II. Padahal konstelasi dunia sekarang sudah berubah.

Mengingat pada 14 Februari 2024 ini akan berlangsung pemilu, untuk memilih para pemimpin nasional dan wakil rakyat di parlemen, Satrio mengingatkan pentingnya mereka memahami Geopolitik Bung Karno.

“Sehingga para tokoh yang nanti memimpin bangsa ini bisa menjadikan Geopolitik Bung Karno sebagai ukuran kebijakan nasional dan internasional Indonesia,” tegas Satrio, yang lulusan S2 Pengkajian Ketahanan Nasional UI.

Ditambahkan Satrio, pertarungan geopolitik saat ini, sebagaimana terjadi di Timur Tengah, Semenanjung Korea, Selat Taiwan, Laut China Selatan, serta Perang Rusia-Ukraina, menunjukkan sistem internasional yang anarkis tetap terjadi.

Dengan konteks tersebut, ungkap Satrio, pemikiran geopolitik Sukarno sangat penting sebagai pandangan alternatif di dalam merancang kebijakan luar negeri dan pertahanan Indonesia, dalam peran aktifnya menjaga perdamaian dunia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

More in Nasional