Connect with us

Gaya Hidup

TikTok Bukan Doktermu! Jangan Sampai Scroll Berujung Salah Diagnosis

 

Wartajakarta.com-Pukul 01.00 malam. Kamu masih scrolling TikTok ketika sebuah video muncul: “Lima tanda tubuhmu mengalami gangguan hormon!” Tiga tandanya terasa familier.

Kamu lanjut menonton video lain, membaca komentar, lalu menemukan kreator yang menyebut gejala tersebut sebagai tanda penyakit serius. Awalnya cuma penasaran, lima belas menit kemudian kamu malah khawatir dengan kondisi tubuh sendiri.

Fenomena ini semakin akrab di kalangan Gen Z. Media sosial memang memudahkan kita mencari informasi kesehatan, tetapi gejala yang terasa cocok belum tentu menunjukkan penyakit yang sama. Ketika video singkat mulai menggantikan pemeriksaan medis, mencari informasi bisa berubah menjadi kebiasaan mendiagnosis diri sendiri.

Satu Gejala, Banyak Kemungkinan.

Merasa lelah terus-menerus bukan otomatis berarti anemia. Sulit fokus belum tentu ADHD. Jantung berdebar saat cemas juga tidak selalu menunjukkan penyakit jantung, meskipun tetap perlu diperhatikan jika disertai tanda bahaya.
Dalam kedokteran, satu gejala dapat berkaitan dengan berbagai kondisi.

Diagnosis membutuhkan penilaian riwayat kesehatan, gejala penyerta, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang jika diperlukan. Karena itu, mencocokkan diri dengan daftar gejala di internet tidak cukup untuk menentukan diagnosis.

Hal serupa berlaku pada kesehatan mental. Merasa sedih tidak otomatis berarti depresi klinis. Starvaggi et al. (2024) membahas misinformasi kesehatan mental di media sosial yang dapat memengaruhi pemahaman pengguna terhadap gangguan dan pengobatannya. Konten edukasi dapat membantu kita mengenali masalah, tetapi tidak menggantikan evaluasi profesional.

Dari Konten Viral ke Risiko Medis.

Bayangkan kamu demam dan batuk, lalu menemukan video yang menyarankan antibiotik agar cepat sembuh. Padahal, antibiotik bekerja melawan bakteri tertentu, bukan virus penyebab influenza atau sebagian

besar kasus pilek. Penggunaan yang tidak tepat dapat menimbulkan efek samping dan berkontribusi terhadap resistansi antimikroba.
Risiko lain muncul ketika seseorang mengikuti diet ekstrem demi hasil instan atau menghentikan obat karena kreator menyebutnya berbahaya.

Tanpa mempertimbangkan kondisi individu dan bukti medis, keputusan tersebut dapat membahayakan kesehatan.

Kbaier et al. (2024) mengulas misinformasi kesehatan di media sosial sebagai tantangan yang dapat memengaruhi pemahaman dan keputusan kesehatan masyarakat. WHO juga menjelaskan bahwa banjir informasi, termasuk klaim keliru atau menyesatkan, dapat menimbulkan kebingungan dan mendorong perilaku berisiko (World Health Organization, n.d.).

Jadi, masalahnya bukan sekadar salah memahami penyakit. Informasi keliru bisa memengaruhi obat yang dikonsumsi, pola makan yang dijalani, hingga keputusan untuk mencari pertolongan medis.

Kenapa yang Viral Terasa Meyakinkan?

Video dengan judul sensasional, testimoni kesembuhan, dan kreator yang terlihat seperti ahli dapat membuat suatu klaim terasa benar. Ketika ribuan orang menyukai dan membagikannya, kita semakin mudah percaya.
Padahal, viral bukan berarti valid.

Pengalaman seseorang membaik setelah mengonsumsi suplemen juga tidak otomatis membuktikan bahwa suplemen tersebut menjadi penyebabnya.

Powell dan Pring (2024) menemukan bahwa influencer media sosial dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap hasil kesehatan. Artinya, media sosial bukan musuh kesehatan, tetapi isi informasinya tetap perlu dinilai secara kritis.

Dalam kedokteran, pendekatan evidence-based medicine menggabungkan bukti ilmiah terbaik, keahlian klinis, serta kondisi dan nilai pasien. Keputusan kesehatan seharusnya tidak hanya didasarkan pada siapa yang paling meyakinkan di depan kamera.

Sebelum Percaya, Lakukan “Cek Medis” pada Informasinya

Kamu tidak harus berhenti menggunakan media sosial. Cukup biasakan lima langkah berikut sebelum mempercayai atau membagikan konten kesehatan.
1. Cek sumbernya. Cari informasi dari tenaga kesehatan yang kompeten atau lembaga tepercaya seperti Kementerian Kesehatan RI, BPOM, dan WHO.
2. Waspadai janji instan. Klaim seperti “sembuh total dalam tiga hari” atau “ampuh untuk semua penyakit” patut dicurigai.
3. Cari bukti ilmiah. Jangan hanya mengandalkan testimoni. Periksa apakah klaim didukung penelitian yang relevan.
4. Bandingkan sumber. Cari penjelasan dari beberapa sumber tepercaya, bukan hanya satu video viral.
5. Tahu kapan mencari bantuan. Jika keluhan menetap, memburuk, atau mengganggu aktivitas, konsultasikan kepada tenaga kesehatan. Jika muncul tanda kegawatan, segera cari pertolongan medis.

Langkah sederhana ini membantu kita memanfaatkan teknologi tanpa menyerahkan keputusan kesehatan sepenuhnya kepada tren dan algoritma.

Beranda Boleh Pintar, Keputusan Kesehatan Harus Tetap Kritis

Media sosial dapat menjadi sarana edukasi kesehatan yang bermanfaat. Namun, informasi yang melimpah tidak otomatis membuat kita lebih sehat. Kita perlu memahami batas informasi daring dan tidak terburu-buru mendiagnosis diri atau mengubah pengobatan sendiri.

Mulai sekarang, ketika video kesehatan muncul di beranda, jangan hanya bertanya, “Apakah gejalanya mirip denganku?” Tanyakan juga, “Apa bukti medisnya?” dan “Apakah aku perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan?”
Tubuhmu bukan kolom komentar, gejalamu bukan kuis TikTok, dan diagnosis bukan hasil voting netizen.

Gunakan media sosial untuk belajar, bukti ilmiah untuk menilai informasi, dan tenaga kesehatan untuk membantu menentukan langkah yang tepat.

Scroll boleh lanjut. Tapi untuk urusan kesehatan, jangan biarkan viralitas mengambil alih penalaran. Ucap Abdul Majid mahasiswa Universitas Airlangga

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Gaya Hidup