WartaJakarta.com -Jakarta
Ajang Final Pemilihan Wajah Pesona Indonesia Nasional 2025 resmi digelar dengan meriah di Hotel Golden Boutique Jakarta Pusat , Minggu( 9/11) 2025. Acara bergengsi ini menjadi puncak rangkaian panjang seleksi dari berbagai provinsi di Indonesia yang telah berlangsung sepanjang tahun 2025 Yang diadakan oleh Plor Management.
Brand Anggalang by Omar menampilakn sesuatu yang berbeda dalam ajang Wajah Pesona Indonesia 2025 . Di ajang yang mengusung tema “Ningrat”,Omar desainer sekaligus pemilik label Anggalang by Omar, menjelaskan ia membawa sejumlah model terbaik dari dua ajang terdahulu Ratu dan Putri Kebaya 2025 serta OneB Ethnic Fashion Week Festival 2025 untuk tampil dalam peragaan kali ini.
Namun, ada tantangan baru yang harus mereka hadapi. Jika sebelumnya para model identik dengan kebaya dan busana nusantara, kali ini mereka harus berani keluar dari zona nyaman dan menampilkan sisi baru dari dunia mode.

“Indonesia itu bukan cuma kebaya,” ujar Omar. “Ada unsur-unsur lain dari mode modernitas yang bisa kita serap. Walaupun tidak semuanya cocok dijadikan patokan, kita bisa ambil energi positifnya. Anak-anak ini belajar untuk jadi pribadi yang dinamis, model yang bisa beradaptasi dengan berbagai karakter baik ketika memakai kebaya, batik, maupun gaya internasional.”
Yang membuat koleksi Anggalang by Omar kali ini menarik adalah konsep upcycle yang ia terapkan.
Menurut Omar, semua busana yang ditampilkan merupakan hasil daur ulang dari bahan-bahan yang sudah tidak terpakai, termasuk limbah sofa.
“Untuk fashion yang ramah lingkungan, kita bisa memanfaatkan kembali bahan bekas. Kalau recycle itu mengubah, upcycle itu meningkatkan nilai dari barang lama tanpa mengubah bentuk dasarnya,” jelasnya.

Omar menampilkan konsep “Glam Rock” dalam desainnya. Ia mengatakan bahwa tema tersebut terinspirasi dari musik yang bersifat universal.
“Musik itu menyatukan semua hal, mempersatukan kita,” katanya.
Menurutnya, bahan limbah yang memiliki tekstur dan kerutan unik justru memberikan nilai artistik tersendiri dalam desain busana. “Kerutan-kerutan itu tidak ada di bahan baru, dan itu justru membuat busananya hidup,” tambahnya.
Selain membawa pesan keberlanjutan, peragaan ini juga mengedepankan inklusivitas. Dari total 25 model yang tampil, 10 di antaranya merupakan model disabilitas.
Omar menegaskan dunia fashion harus menjadi ruang yang terbuka bagi siapa pun, tanpa batasan fisik atau kondisi tertentu.
Tujuan utama penggunaan bahan lama menjadi baru, kata Omar, adalah untuk membangun kesadaran terhadap pentingnya mengurangi limbah tekstil dan menumbuhkan tanggung jawab bersama terhadap perubahan iklim.
“Dengan membudidayakan kebiasaan memakai bahan lama menjadi baru, kita bisa ikut menjaga bumi sekaligus menunjukkan bahwa fashion ramah lingkungan tetap bisa tampil elegan dan berkelas,” tutupnya.