Connect with us

Pendidikan

Penguatan Kolaborasi Lintas Sektor Diperlukan untuk Keberlanjutan Literasi

 

Wartajakarta.com-Literasi merupakan fondasi penting dalam membentuk manusia yang bermartabat dan berdaya saing. Dalam perkembangannya, berbagai upaya penguatan literasi telah dilakukan oleh beragam pihak, meskipun masih diperlukan penguatan sinergi agar pelaksanaannya dapat berjalan lebih terpadu dan berkelanjutan.

Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminudin Aziz, menyampaikan bahwa penguatan literasi nasional memerlukan keterpaduan langkah antar kementerian dan lembaga (K/L). Menurutnya, perbedaan pendekatan dan perspektif dalam penanganan literasi menjadi hal yang perlu diselaraskan melalui transformasi cara pandang yang lebih menyeluruh.

“Faktanya, urusan literasi baru sebatas pada proyek bersama, yang tidak pernah dikerjakan bersama, yang artinya ego sektoral dari masing-masing k/l masih sangat tinggi,” imbuhnya. Sehingga menurutnya, perlu ada sebuah transformasi pemikiran bahwa literasi harus dikerjakan bersama. “Perlu dibuat ekosistem yang menyeluruh melalui jalinan kerja sama, untuk bersatu dalam gerakan literasi semesta,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti dinamika di lapangan terkait persepsi terhadap minat baca masyarakat. Ia menilai bahwa persoalan literasi tidak semata terletak pada minat baca, melainkan juga pada ketersediaan bahan bacaan yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Saya menemukan buku pelajaran di sebuah perpustakaan sekolah, padahal yang diinginkan anak-anak yang bersekolah di sana adalah buku yang menggembirakan. Kesimpulannya kita tidak memiliki bahan bacaan yang cukup untuk anak-anak maupun orang dewasa, sehingga perlu ada revolusi dalam penyediaan buku yang sesuai dengan minat baca masyarakat,” lanjutnya.

Upaya penguatan literasi tersebut terus didorong melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Salah satunya melalui kunjungan kerja Kepala Perpusnas bersama jajaran ke Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos), yang membuka peluang kerja sama dalam pengembangan perpustakaan di lingkungan Sekolah Rakyat (SR).

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, menyambut baik rencana kerja sama tersebut dan memberikan dukungan terhadap peran Perpusnas dalam penyelenggaraan serta pengelolaan perpustakaan di Sekolah Rakyat. Hal ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam memperluas akses literasi, khususnya bagi masyarakat dari kelompok yang membutuhkan perhatian lebih.

“Saya waktu itu senang sekaligus kaget karena tidak banyak yang memiliki pemikiran revolusioner seperti beliau. Dari situ saya sangat yakin Sekolah Rakyat bisa jadi contoh terbaik, bahwa mereka yang berasal dari kelompok termarjinalkan ketika dikasih gizi berupa ilmu pengetahuan yang baik, mereka bisa menjadi individu terbaik,” kisahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Sosial yang akrab disapa Gus Ipul juga menyampaikan bahwa pengelolaan Sekolah Rakyat memerlukan dukungan sumber daya manusia yang memadai, konsep yang kuat, serta sarana dan prasarana yang mendukung. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memastikan keberhasilan program tersebut.

“Maka dari itu, saya ajak Kepala Perpusnas dan bidang pendidikan lainnya untuk menyukseskannya. Beliau menjadi salah satu yang saya andalkan,” katanya saat membuka Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan Tingkat Lanjut Bagi Pengelola Perpustakaan Sekolah Rakyat Batch 3 Tahun 2026.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat telah dimulai di berbagai wilayah dengan konsep yang menempatkan perpustakaan sebagai bagian penting dalam ekosistem pendidikan. Perpustakaan dirancang sebagai ruang yang mudah diakses dan mampu menarik minat siswa maupun masyarakat untuk berkunjung dan belajar.

“Perpustakaan adalah jantung literasi dan ruang tumbuh masa depan siswa Sekolah Rakyat. Saya ingin dimulai dari Sekolah Rakyat dan perpustakaan harus berada di bagian depan sebagai tempat yang istimewa,” ungkapnya di hadapan 122 peserta dari 61 SR di wilayah Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Selain itu, disampaikan pula bahwa perpustakaan memiliki fungsi strategis dalam mendukung pembangunan manusia. Peran pengelola perpustakaan juga terus berkembang, tidak hanya dalam pengelolaan koleksi, tetapi juga dalam penguatan literasi dan pembentukan karakter masyarakat.

“Fungsi strategis perpustakaan ada tiga yakni sebagai alat mobilitas sosial, ruang aman, dan pusat pembentukan karakter. Sedangkan peran para pengelola di dalamnya bukan hanya sebagai penjaga buku, tetapi juga sebagai kurator pengetahuan, penggerak literasi, dan penjaga harapan bangsa,” terangnya.

Di akhir kegiatan, Menteri Sosial menyampaikan harapannya agar para pengelola perpustakaan Sekolah Rakyat dapat berperan aktif dalam membangun ekosistem literasi yang hidup dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa perpustakaan memiliki peran penting dalam membuka peluang masa depan bagi generasi muda.

“Anak-anak SR datang dari latar belakang yang tidak mudah. Untuk itu, pelatihan ini harus diikuti sampai selesai karena di tangan anda, para pengelola, buku bisa menjadi nasib baru bagi seorang anak,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Pendidikan