Wartajakarta.com-Sebagai bagian dari sosialisasi dan informasi yang diberikan Asosiasi Inventor Indonesia (AII) atas valuasi hasil riset BPDPKS HRS 2015-2021 kepada khalayak termasuk industri dan pihak terkait kelapa sawit, kembali dilaksanakan seminar II (kedua) AII yang berlangsung pada hari Rabu, 20 September 2023, di Hotel Aryaduta, Jakarta.
Seminar II AII 2023 ini berlangsung secara langung atau tatap muka dan dilakukan hybrid melalui zoom di lokasi dengan mengusung tema “Pengembangan bisnis dan industri berbasis kelapa sawit melalui pemanfaatan invensi hasil riset BPDPKS GRS 2015-2021”
Dalam acara seminar ini ,Ada 5 (Lima) pembicara yang memberikan materinya di seminar kedua ini, diantaranya adalah Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit- Zaid Burhan Ibrahim, Ketua Umum GIPMI-Ir. Sahat M. Sinaga; Direktur PT HKA-Martin B.U. Nababan; PT Pan Brothers Tbk-Rizal Tanzil Rakhman dan Direktur Utama PT PPM-Agussalim Igarashi.
Sebagai keynote speaker adalah Ketua Umum AII, Prof (R). Ir. Didiek Hadjar Goenadi, MSc, PhD, INV. Sedangkan yang menjadi moderator adalah Ketua Bidang Kerja sama AII, Dr. Ir. Muhammad Ibnu Fajar, M.Si.
Dalam kesempatan seminar II AII Ketua Umum AII menyatakan ucapan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas kehadiran peserta dan juga kepada 5 (lima) pembicara baik secara langsung maupun secara daring.
Seminar II AII ini merupakan lanjutan dari seminar I sebelumnya yang terselenggara pada Mei 2023 dan merupakan bagian dari kerja sama antara AII dengan BPDPKS untuk memvaluasi hasil riset untuk menuju komersialisasi yang berguna secara ekonomis bagi masyarakat. Walaupun diakui Ketum, tidak mudah untuk mensosialisasikan atau memperkenalkan produk baru dari hasil inventor menuju komersialisasi.
“Dari 17 hasil invensi, AII berperan menjembatani hasil invensi ini ke pelaku usaha untuk komersialisasi . Kini 8 hasil invensi tersebut diantaranya sudah diminati perusahaan atau sekitar 47% dari jumlah invensi yang di valuasi.”Tidak mudah untuk membawa temuan baru atau teknologi baru ke arah komersialisasi, oleh karenanya dukungan semua pihak untuk merealisasikan ini semua.” kata Prof. Didiek.
Mestinya, kolaborasi antara peneliti, industri dan regulasi mutlak diperlukan agar bisa memberi andil terhadap realisasi pertumbuhan sawit yang memberi banyak manfaat dari beragam lini. AII menjadi satu katalisator yang bisa membantu hal itu.
Zaid Burhan Ibrahim, Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit yang memberikan materi dengan judul “Dukungan Pengembangan Bisnis dan Industri melalui Program Grant Riset Sawit” mengatakan bahwa hingga saat ini pasar sawit di dalam negeri terus tumbuh seiring dengan peningkatan produksi dan penerapan program B30. Kondisi ini akan membantu membangun fondasi domestik yang kuat terutama pada akhir tahun ketika harga CPO turun.
Berdasarkan catatan BPDPKS, sektor kelapa sawit di Indonesia melibatkan lebih dari 16 juta pekerja, termasuk sekitar 7 juta pekerja di perkebunan kelapa sawit rakyat, dapat terus mendorong PDB sektor perkebunan ke angka positif, sehingga PDB Indonesia pada triwulan I tahun 2023 tumbuh positif sebesar 5,03%.
“Keberadaan AII sangat diperlukan agar supaya bisa mendukung pertumbuhan industri sawit Indonesia karenanya BPDPKS bekerja sama dengan AII, ” kata Zaid Burhan.
Hal sama diutarakan Ir. Sahat M. Sinaga yang mengatakan bahwa AII sebagai jembatan antara inventor dengan investor bisa memfasilitasi hal-hal yang menjadi kendala selama ini. Sementara itu, Martin B.U. Nababan mengatakan bahwa keberadaan AII dan BPDPKS bisa menjembatani kepentingan industri dan inventor.
“Ke depan industri akan banyak membutuhkan inovasi baik itu produk akhir, metode, material dan peralatan untuk memenuhi permintaan pelanggan. Ini semua membutuhkan jembatan, AII bisa berperan agar invensi bisa dikomersialkan, ” tutur Martin