Connect with us

Nasional

Hasril Chaniago: Kunci kemajuan orang Minangkabau adalah sikap terbuka atas pembaharuan dan kemajuan

Wartajakarta.com-Kunci kemajuan yang dicapai oleh orang Minangkabau di lapangan pendidikan dan intelektualitas di masa lalu adalah karena sikap mereka yang terbuka atas pembaharuan dan kemajuan.

Hal itu diungkapkan Hasril Chaniago, penulis biografi dan sejarah yang amat produktif, dalam Webinar Literasi dan Budaya Minangkabau di Jakarta, Kamis malam, 6 Oktober 2022.

Webinar tentang Minangkabau itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai Denny JA. Pemandu diskusi adalah Armaidi Tanjung dan Elza Peldi Taher.

Hasril Chaniago menjelaskan, dari sikap dan karakter yang “haus akan ilmu dan lapar akan kemajuan”
itulah kemudian lahir generasi emas pertama Minangkabau sebelum kemerdekaan.

Para tokoh besar pemikir, intelektual, dan cendekiawan asal Minangkabau lahir karena tradisi literasi (membaca dan menulis). “Selain gila membaca, mereka juga gila menulis serta menguasai banyak bahasa asing,” ujar Hasril.

Hasril memberi contoh Bung Hatta. Ketika pulang dari Negeri Belanda, setelah menyelesaikan sekolah tinggi ekonomi di Rotterdam (1931), Hatta membawa 16 peti buku. Masing-masing peti berukuran ½ (setengah) kubik. Untuk menyusun buku-buku tersebut di rumah Ayub Rais diperlukan waktu tiga hari.

Hatta kemudian dikenal sebagai Bapak Bangsa yang paling banyak menulis buku. “Selain bahasa Indonesia, Hatta lancar membaca dan menulis dalam bahasa Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman,” lanjut Hasril.

Di bidang kesusastraan jangan disebut lagi. Sekitar 75 persen penulis Angkatan Balai Pustaka adalah orang Minang. “Di setiap angkatan: Pujangga Baru, Angkatan 45, dan Angkatan 66, nama sastrawan asal
Minang tak bisa dilupakan,” tutur Hasril.

Lalu, ditambahkan Hasril, dari sejumlah sastrawan terkemuka Indonesia di era modern, enam sastrawan asal Minang pernah meraih penghargaan SEA Write Award. Mereka adalah A.A. Navis, Taufiq Ismail, Wisran Hadi, Gus tf Sakai, Afrizal Malna, dan Rusli Marzuki Saria.

Hasril menyimpulkan, selagi orang Minang hidup dalam tradisi literasi serta terus menjaga sikap dan karakter yang “haus akan ilmu dan lapar akan kemajuan,” Sumatra Barat atau Minangkabau akan tetap melahirkan generasi emas bagi dunia literasi Indonesia di masa mendatang

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

More in Nasional