Connect with us

Pendidikan

ITI Kukuhkan 317 Insinyur, Perkuat Integritas Profesi dan Industri Nasional

Wartajakarta.com-TANGERANG SELATAN — Institut Teknologi Indonesia (ITI) mengukuhkan 317 lulusan Program Profesi Insinyur pada Wisuda Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 yang berlangsung di Gedung Graha Widya Bhakti, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, BRIN, Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (24/10/2026). Para lulusan terdiri atas 279 peserta jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan 38 peserta jalur reguler.

Pengukuhan ini menegaskan pentingnya pendidikan keinsinyuran dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, etika profesi, dan tanggung jawab terhadap masyarakat. Di tengah perkembangan teknologi dan tantangan industrialisasi, insinyur dituntut mampu menghasilkan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan bangsa.

Rektor ITI, Prof. Dr. Ir. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa kompetensi teknis harus berjalan beriringan dengan etika dan praktik keinsinyuran. Menurutnya, keberhasilan pendidikan insinyur tidak cukup diukur dari penguasaan ilmu, tetapi juga dari kemampuan menerapkannya secara bertanggung jawab.

“Kita menempatkan kompetensi teknis di ITI dengan etika dan praktik keinsinyuran dalam satu kesatuan. Jadi diharapkan mereka tidak hanya mendalami ilmu kompetensi teknisnya, namun etika, integritas, itu yang kita kedepankan,” ujar Syopiansyah.

Ia menjelaskan, penguatan kompetensi profesional di ITI didukung melalui Program Profesi Insinyur, pendekatan lintas bidang, klinik keinsinyuran, serta kerja sama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan mitra industri. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung pengembangan profesionalisme lulusan sesuai dengan ketentuan dan standar keinsinyuran yang berlaku.

Insinyur sebagai Penggerak Industri Nasional

Ketua Umum Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI), Dr. Ir. Heru Dewanto, S.T., M.Sc.(Eng)., IPU., ACPE., APEC Eng., menyoroti peran strategis insinyur dalam memperkuat industri nasional dan mendorong Indonesia menjadi negara maju. Menurutnya, peningkatan kapasitas industri merupakan salah satu tantangan penting dalam upaya membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap).

Heru menyampaikan bahwa kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih berada pada kisaran 18–19 persen. Ia menilai peningkatan kontribusi tersebut hingga melampaui 25 persen merupakan salah satu tantangan yang perlu dijawab untuk memperkuat fondasi ekonomi berbasis industri.

“Memajukan industri ini adalah tugas utama para insinyur. Karena itulah para lulusan ITI harus sadar betul bahwa tugasnya adalah mendorong pertumbuhan industri sehingga porsinya mencapai lebih dari 25 persen,” tegas Heru.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat keterlibatan ITI dalam ekosistem inovasi dan teknologi nasional. Salah satu arah yang didorong YPTI adalah integrasi dan kolaborasi dengan ekosistem riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sehingga mahasiswa dan insinyur muda memiliki kesempatan lebih luas untuk berpartisipasi dalam pengembangan teknologi dan menjawab kebutuhan industri.

Menurut Heru, profesi insinyur memiliki tanggung jawab yang melampaui pencapaian individual. Karya dan inovasi yang dihasilkan harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung kemajuan bangsa.

“Sadari betul hakikat seorang insinyur bahwa karyanya bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi bagaimana karya-karya tersebut bermanfaat buat masyarakat banyak, buat bangsa dan negara. Bangunlah industri nasional kita,” ujarnya.

Pembelajaran Berkelanjutan Menghadapi Perubahan Teknologi

Sekretaris Jenderal PII, Dr. Ir. Teguh Haryono, MBA., IPU., ACPE., ASEAN Eng., APEC Eng., mengingatkan bahwa insinyur muda memiliki peran penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Untuk itu, regenerasi profesi, pendampingan oleh insinyur senior, dan pembelajaran berkelanjutan perlu menjadi bagian dari pengembangan kompetensi keinsinyuran.

Perkembangan ilmu pengetahuan, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan teknologi digital membuat kebutuhan kompetensi terus berubah. Insinyur dituntut tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formal, melainkan terus memperbarui pengetahuan melalui pengalaman praktik, pelatihan, dan komunitas profesi.

“Pesan saya adalah belajar, belajar, dan belajar. Karena ilmu berkembang pesat, teknologi berkembang pesat. Harus pribadi dia belajar, tapi juga harus melalui kelompoknya, yaitu PII,” pesan Teguh.

Sejalan dengan tantangan tersebut, ITI terus mengarahkan pembelajaran agar adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, transformasi digital, dan energi terbarukan. Pendekatan ini selaras dengan semangat Nusantara 5.0: Rooted by Culture, Driven by Technology, yang menempatkan penguasaan teknologi bersama nilai budaya, etika, dan kemanfaatan bagi masyarakat.

Pengalaman Profesional dan Dukungan Akademik

Pentingnya pembelajaran yang relevan dengan praktik profesional turut tercermin dalam pengalaman Andi Wahyudi, profesional PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang menyelesaikan Program Profesi Insinyur ITI.

Andi mengungkapkan bahwa komunikasi dengan dosen, pembimbing, dan pengelola program membantunya menghadapi berbagai tantangan selama menjalani pendidikan sambil tetap melaksanakan tanggung jawab pekerjaan. Menurutnya, keterbukaan dalam berkomunikasi dan dukungan akademik menjadi bagian penting dalam menyelesaikan proses pembelajaran.

“Setiap kita punya kesulitan, benar-benar kami komunikasikan, dan beliau-beliau juga membantu solusinya sehingga kami benar-benar bisa melaksanakan atau memecahkan setiap permasalahan yang ada,” ungkap Andi.

Ia juga mengapresiasi suasana akademik yang mengedepankan pendekatan kekeluargaan, baik melalui komunikasi daring maupun pertemuan langsung. Pengalaman tersebut diharapkan dapat terus dipertahankan seiring pengembangan pendidikan keinsinyuran yang semakin responsif terhadap kebutuhan dunia kerja.

Meneruskan Semangat B.J. Habibie dalam Pengembangan Teknologi

Komitmen ITI dalam menyiapkan sumber daya manusia di bidang teknologi berakar pada sejarah pendiriannya pada 1984. Institut ini diprakarsai oleh Prof. B.J. Habibie, Presiden ketiga Republik Indonesia sekaligus tokoh teknologi nasional, dengan semangat memperkuat kemampuan teknologi Indonesia melalui pendidikan tinggi teknik.

Berada di kawasan Serpong yang memiliki sejarah panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ITI memiliki keterkaitan historis dengan cita-cita membangun kemandirian teknologi nasional. Warisan pemikiran Habibie tersebut tetap relevan dalam menghadapi tantangan masa kini, mulai dari transformasi digital hingga kebutuhan akan industri yang inovatif dan berdaya saing.

Melalui pendidikan program sarjana dan profesi, ITI mengambil bagian dalam menyiapkan generasi yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan penerapan teknologi dan tanggung jawab profesional. Penguatan kompetensi, integritas, dan budaya belajar sepanjang hayat menjadi bekal penting agar insinyur Indonesia dapat berkontribusi dalam pengembangan industri dan penyelesaian persoalan masyarakat.

Bagi calon mahasiswa yang ingin mendalami bidang teknologi dan mempersiapkan diri untuk berkontribusi dalam pembangunan Indonesia, informasi program studi dan penerimaan mahasiswa baru Institut Teknologi Indonesia dapat diakses melalui https://pmb.iti.ac.id atau dengan mengikuti akun resmi media sosial @pmb.iti.

Wisuda Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 menjadi momentum bagi para lulusan untuk melanjutkan proses pembelajaran melalui praktik profesional, inovasi, dan kolaborasi. Lebih dari sekadar gelar, profesi insinyur membawa tanggung jawab untuk menghasilkan karya yang aman, bermanfaat, dan dapat dipertanggungjawabkan demi kemajuan industri nasional serta masa depan Indonesia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Pendidikan