Wartajakarta.com- Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (PP IPI), Joko Santoso mengajak seluruh pustakawan Indonesia untuk semakin terlibat dalam memenuhi kebutuhan literasi masyarakat, bersinergi, dan memberikan dampak nyata bagi negeri. Demikian disampaikan saat Gelar Wicara dalam Peringatan HUT ke53 IPI dan Hari Pustakawan Indonesia 2026 , Selasa (7/7/2026).
“Usia 53 tahun bukanlah waktu yang singkat. IPI telah melewati berbagai era transformasi dari era katalog manual hingga di tahun 2026 kita hidup berdampingan dengan era kecerdasan buatan dan AI,” ungkapnya.
Mengusung tema “Pustakawan Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak”, Joko mengatakan profesi pustakawan tidak lagi cukup berperan sebagai pengelola koleksi, tetapi juga harus menjadi fasilitator pengetahuan yang hadir di masyarakat. “Di tahun 2026 ini tidak ada lagi tempat bagi pustakawan yang pasif. Pustakawan harus keluar dari zona nyaman, terlibat langsung dalam denyut kehidupan masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan, bahwa makna ‘terlibat’ adalah hadir dan berkontribusi secara langsung dalam memenuhi kebutuhan literasi masyarakat. Sedangkan, ‘bersinergi’ berarti membangun kolaborasi dengan Pemerintah, perguruan tinggi, komunitas. Sementara, ‘berdampak’ dimaknai sebagai kemampuan pustakawan menghadirkan perubahan nyata yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Tolok ukur keberhasilan kita hari ini tidak lagi diukur dari berapa banyak koleksi buku yang tersusun rapi di rak, seberapa megah gedung perpustakaan. Tetapi seberapa besar kehadiran pustakawan membawa perubahan nyata dan transformasi positif bagi kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Untuk mewujudkan tema tersebut, lanjutnya, IPI mengusung komitmen kelembagaan ADEM, yaitu Advokatif, Demokratis, Efektif dan Mengayomi, yang diharapkan menjadi karakter organisasi. Komitmen ini harus didukung oleh karakter setiap pustakawan yang DEKAT, yakni Dedikatif, Kolaboratif, Adaptif, dan Transformatif.
Pada kesempatan itu, Joko menyampaikan apresiasi kepada seluruh pustakawan di Indonesia atas dedikasi yang telah diberikan selama lebih dari lima dekade sejak IPI berdiri pada tahun 1973. Selain itu, ia mengajak seluruh pengurus dan anggota IPI memperkuat komitmen profesi dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia.
“Marilah kita terus menjadi lentera di tengah banjir informasi, menjadi kompas bagi masyarakat dalam menemukan pengetahuan yang benar dan menjadi pilar utama menuju Indonesia Emas 2045. Mari bergerak bersama terlibat dengan hati, bersinergi dengan aksi dan berdampak untuk negeri,” ungkapnya.
Dewan Pembina Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI), Muhammad Ihsanudin, menyampaikan bahwa pustakawan sekolah pun harus aktif terlibat, bersinergi, dan memberikan dampak nyata bagi komunitas sekolah. Menurutnya, pustakawan tidak lagi hanya mengelola koleksi, tetapi harus menjadi bagian dari pengembangan pendidikan di sekolah.
Sebagai pustakawan di MAN Cendekia Serpong, ia menjelaskan bahwa kepala perpustakaan selalu dilibatkan dalam tim pengembang kurikulum. Keterlibatan ini memungkinkan pustakawan memahami arah kebijakan pendidikan sekaligus memberikan masukan dalam penyusunan kurikulum. “Pustakawan juga berkolaborasi dengan guru terutama dalam mendukung pelaksanaan kurikulum internasional melalui penyediaan sumber belajar, pendampingan riset hingga asesmen perpustakaan,” jelasnya.
Presiden Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPIII), Wien Muldian menegaskan pustakawan harus berorientasi pada dampak, bukan sekadar menyelenggarakan kegiatan. Menurutnya, berbagai program seperti workshop, storytelling, membaca nyaring, tidak cukup hanya menjadi peristiwa seremonial, tetapi harus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Keberhasilan pustakawan diukur dari sejauh mana mereka mampu membantu menyelesaikan persoalan masyarakat melalui buku, informasi, dan pengetahuan yang tersedia di perpustakaan,” tegas pendiri Baca Buku di Tebet ini.
Sementara itu, Ketua Umum Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI), Mariyah menjelaskan, bahwa pustakawan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam meruntuhkan ‘menara gading’ akademik, yakni dengan membawa hasil riset kampus agar lebih dekat dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Pustakawan tidak hanya menyimpan skripsi, tesis, disertasi, atau jurnal di repository, tetapi juga perlu mengemas ulang hasil penelitian menjadi informasi yang mudah dipahami,” jelasnya.
Ketua Pengurus Daerah IPI Jateng, Itmamudin menyampaikan organisasi profesi memiliki peran penting dalam memperjuangkan karier, kesejahteraan, serta pengembangan kompetensi pustakawan. Menurutnya, keterlibatan pustakawan harus diwujudkan dalam tiga ranah.
Pertama, ia menyebutkan, aktif dalam organisasi profesi, karena organisasi merupakan wadah untuk menyusun program, kebijakan, serta memperjuangkan kepentingan pustakawan. Kedua, berkontribusi secara maksimal di institusi tempat bekerja. “Pustakawan harus memberikan pelayanan terbaik, meningkatkan kualitas perpustakaan, dan menunjukkan kompetensinya,” paparnya.
Ketiga, berperan aktif di masyarakat. Menurut Itmamudin, citra pustakawan akan meningkat apabila mereka terlibat dalam berbagai organisasi sosial, keagamaan, pendidikan, maupun kegiatan kemasyarakatan.