Keterangan foto (dari Kiri ke Kanan):Ir. Syahril Makosim, ST., MSi., IPM (Wa.Ka KBBSS);Retno Purbani,.SE., MM (Pengurus KBBSS);Brig. Jend. Marinir (Purn.) Bastian Umar (Pembina KBBSS);Een Djuhaeni (Pengurus KBBSS);Zurike Takarada, SH., S.IP (Pendiri KBBSS);dan Ir. Feby Arzoerdy (Pengurus KBBSS).
Wartajakarta.com-Delapan puluh tahun bukan sekadar angka, melainkan simbol dari perjalanan panjang sebuah pengabdian, perjuangan, pengalaman, dan keteladanan bagi bangsa dan negara. Memasuki usia senja yang genap 80 tahun, Brigjen TNI Marinir (Purn.) Bastian Umar mengabadikan lembaran hidupnya melalui sebuah karya biografi bertajuk “Jejak Pengabdian”.
Acara syukuran hari ulang tahun sekaligus peluncuran buku tersebut digelar secara hangat dan penuh kekeluargaan di Klub Eksekutif Persada Purnawirawan, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Minggu, 4 Oktober 2026.
Momentum bersejarah ini dihadiri oleh keluarga besar, para tokoh purnawirawan TNI-Polri, sahabat, rekan sejawat, KBBSS serta tokoh-tokoh masyarakat lainnya.
Judul Buku: Jangan Meninggal Sebelum Mati
Dari Tanjung Enim Menuju Korps Marinir
Buku biografi “Jejak Pengabdian” merekam perjalanan hidup Bastian Umar sejak masa kecilnya sebagai anak desa di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, hingga sukses menapaki karier militer di lingkungan TNI Angkatan Laut.
Meskipun tidak lahir dan besar di wilayah pesisir/kelautan, tekad bulat mengantarkannya lolos seleksi Akademi Angkatan Laut (AAL) pada tahun 1965. Selama kurang lebih 32 tahun masa pengabdiannya di Korps Baret Ungu (Marinir) hingga purna tugas pada tahun 2002, beliau berhasil menorehkan prestasi gemilang dan mencapai pangkat Brigadir Jenderal TNI Marinir—menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Bumi Serasan Sekundang.
Dalam catatan kariernya, salah satu tonggak penting adalah ketika dipercaya memimpin Batalyon Infanteri 5 Marinir (1988–1990) serta mengemban amanah sebagai Komandan Resimen Bantuan Administrasi (Menbanmin) Kormar di Surabaya. Tidak hanya aktif di medan penugasan militer, beliau juga mendedikasikan diri sebagai pendidik dan pemikir militer, termasuk menjadi dosen di Lemhannas RI serta terlibat dalam penyusunan literatur pendidikan kewarganegaraan perguruan tinggi.
Purna Tugas Bukan Berhenti Mengabdi
Meskipun seragam militer telah dilepas, semangat pengabdian Bastian Umar tidak pernah surut. Di masa purnatugasnya, beliau tetap aktif di berbagai bidang sosial kemasyarakatan, di antaranya sebagai Ketua Dewan Pengawas Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Muara Enim serta aktif dalam forum silaturahmi purnawirawan TNI-Polri.
”Usia saya pada 5 Oktober 2026 ini genap 80 tahun.
Harapan saya, di usia ini kita semua tetap menjaga kesehatan, senantiasa berpikir positif, dan terus berkontribusi untuk kemajuan bangsa,” ungkap Brigjen TNI Marinir (Purn.) Bastian Umar dalam sambutannya.
Warisan Keteladanan untuk Generasi Muda
Kehadiran buku “Jejak Pengabdian” diharapkan mampu menjadi sumber inspirasi, khususnya bagi generasi muda dan masyarakat Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim maupun Indonesia secara luas. Buku ini tidak hanya mencatat sejarah hidup pribadi, tetapi juga mewariskan nilai-nilai luhur seperti loyalitas, disiplin, kepemimpinan, keteguhan prinsip, dan kecintaan mendalam kepada tanah air.
Teladan Putra Daerah Muara Enim: Keluarga Besar Bumi Serasan Sekundang (KBBSS) Apresiasi Perjalanan Karier & Buku Biografi Brigjen TNI Marinir (Purn.) Bastian Umar
Perjalanan hidup seorang prajurit sejati kembali menorehkan inspirasi mendalam bagi masyarakat luas, khususnya bagi generasi muda. Memasuki usia genap 80 tahun, Brigjen TNI Marinir (Purn.) Bastian Umar meluncurkan buku biografi bertajuk “Jejak Pengabdian” yang merekam rekam jejak pengabdian panjangnya kepada bangsa dan negara.
Di sela-sela rangkaian acara syukuran dan peluncuran buku yang berlangsung hangat di Klub Eksekutif Persada Purnawirawan, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Perwakilan Pengurus Keluarga Besar Bumi Serasan Sekundang (KBBSS), Kabupaten Muara Enim, Ir. Syahril Makosim, ST., MSi., IPM., menyampaikan apresiasi serta rasa bangga yang mendalam kepada sosok sang tokoh.
“Beliau ini bisa menjadi teladan bagi generasi muda, masyarakat umum, khususnya generasi muda masyarakat Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, sebagai contoh putra daerah yang berintegritas dan sukses dalam merambah kariernya hingga menelurkan buku biografi yang sangat bermanfaat,” ungkap Ir. Syahril Makosim, ST., MSi., IPM., saat memberikan kesan dan pesan dalam wawancara.
Putra Daerah yang Mengharumkan Nama Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim
Sebagai sesama perantau dan bagian dari Keluarga Besar Bumi Serasan Sekundang (KBBSS), pihak KBBSS menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada pembina KBBSS ini atas segala dedikasi, pemikiran, serta keteladanan yang telah diberikan selama masa penugasan militer hingga purnatugas.
Perjalanan karier Brigjen TNI Marinir (Purn.) Bastian Umar—yang berakar dari masa kecil di Tanjung Enim, Kab. Muara Enim, hingga mencapai puncak karier militer sebagai perwira tinggi di Korps Marinir RI —membuktikan bahwa anak daerah dari kampung halaman Tanjung Enim pun mampu menjadi sosok hebat yang patut digugu dan ditiru.
Harapan untuk Generasi Penerus
Melalui peluncuran buku biografi “Jejak Pengabdian”, yang berjudul: Jangan Meninggal Sebelum Mati, KBBSS berharap nilai-nilai kedisiplinan, loyalitas, dan semangat pantang menyerah yang diwariskan oleh Brigjen TNI Marinir (Purn.) Bastian Umar dapat menjadi suluh penerang bagi pemuda-pemudi Indonesia, khususnya di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim.
“Mudah-mudahan beliau senantiasa diberi keberkahan, kesehatan, dan perlindungan oleh Allah SWT, serta karya buku ini dapat memberikan inspirasi yang luas bagi kita semua,” pungkas Ir. Syahril Makosim, ST>< MSi., IPM..
Acara ditutup dengan ramah tamah, pemotongan tumpeng, serta makan siang bersama yang semakin mempererat tali silaturahmi antar-keluarga besar dan para sahabat seperjuangan.
Kisah Inspiratif Putra Daerah Tanjung Enim: Genap 80 Tahun, Brigjen TNI Marinir (Purn.) Bastian Umar Rilis Buku Perjalanan Prajurit Bahari Purna Tugas Bukan Berhenti Mengabdi.
Penulis: Muji Sabarno
Prolog: Laksamana Purn. A. Sutjipto
Epilog: Hj. Rafida Umar S.Pd. MM.