Connect with us

Pendidikan

Perpusnas Perkuat Peran Perpustakaan dalam Pembangunan SDM melalui Pembelajaran Sebaya

Wartajakarta.com-Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memperkuat peran perpustakaan sebagai ruang pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat melalui Pertemuan Pembelajaran Sebaya Tingkat Regional Tahun 2026. Kegiatan yang diikuti lebih dari 400 mitra Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi perpustakaan terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Para peserta berasal dari 36 provinsi dan 162 kabupaten/kota, meliputi perpustakaan desa/kelurahan penerima program serta fasilitator daerah. Pertemuan dilaksanakan dalam dua regional. Regional I yang mencakup Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dilaksanakan pada Selasa (1/9/2026), sedangkan Regional II yang meliputi Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua akan dilaksanakan pada Kamis (3/9/2026).

Jakarta, 1 September 2026 — Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Adin Bondar menyampaikan, perpustakaan didorong menjadi ruang belajar, berbagi pengalaman, mengembangkan keterampilan, hingga memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup. Peran tersebut, menurutnya, semakin penting dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Adin juga mengatakan, pengelola perpustakaan, fasilitator, relawan literasi serta seluruh mitra TPBIS memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan SDM Indonesia. “Karena kita tahu bersama bahwa tidak ada satu bangsa pun yang dapat maju tanpa memiliki masyarakat dengan kecakapan literasi yang baik,” ujarnya dalam Pertemuan Pembelajaran Sebaya Regional I yang diselenggarakan secara daring, Selasa (1/9/2026).

Karena itu, Adin mengingatkan seluruh pelaku TPBIS agar tidak berhenti memperjuangkan penguatan literasi di tengah masyarakat.“Kita tidak boleh lelah dan tidak boleh mundur selangkah pun dalam upaya membangun masyarakat yang literat dan berpengetahuan,” tegasnya.

Ia mengatakan, ketika masyarakat memiliki pengetahuan yang baik, akan tumbuh kreativitas dan inovasi. Sebaliknya, ketika akses terhadap pengetahuan dan literasi masih terbatas, berbagai persoalan sosial dan ekonomi akan lebih sulit diatasi.

“Kalau kita bercermin pada apa yang telah kita lakukan sejak tahun 2018, Program TPBIS telah memberikan dampak kepada jutaan masyarakat, termasuk kelompok masyarakat yang sebelumnya termarginalkan,” katanya.

Ia menambahkan, inklusivitas perpustakaan tidak lagi dimaknai sebatas sebagai tempat penyimpanan atau repositori pengetahuan. Perlu memperluas fungsi tersebut. Perpustakaan harus menjadi ruang belajar kontekstual, ruang berbagi pengalaman, dan ruang untuk meningkatkan keterampilan hidup, yang semuanya dibingkai dalam konteks pengetahuan.

Hal senada juga disampaikan, Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan Umum dan Khusus, Nani Suryani. Menurutnya, perpustakaan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui akses terhadap informasi, pengetahuan, dan pembelajaran sepanjang hayat.

“Melalui program TPBIS, perpustakaan didorong untuk semakin terbuka, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan serta dampak bagi masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Perpustakaan Desa Muntang, Kabupaten Purbalingga, terus mengembangkan perannya sebagai pusat kegiatan masyarakat melalui program TPBIS. Roro Hendarti, pengelola perpustakaan Desa Muntang, mengatakan bahwa perpustakaan yang didirikannya sejak 2007 mengalami banyak perubahan setelah bergabung dalam program TPBIS.

“Di awal mungkin kami agak bingung untuk mengembangkan bagaimana yang melibatkan masyarakat. Kami tidak ada anggaran untuk itu, tetapi luar biasa waktu bergulir dan semuanya bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Perpustakaan Desa Muntang menghadirkan layanan perpustakaan keliling, salah satunya yaitu pemanfaatan kendaraan roda tiga milik Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purbalingga yang digunakan untuk menarik sampah sekaligus membawa bahan bacaan kepada masyarakat.

Inovasi ini dikembangkan menjadi program Limbah Pustaka, di mana limbah pustaka mengkolaborasikan perpustakaan dan bank sampah. Salah satu program yang dikembangkan yaitu wisata edukasi. Masyarakat, mahasiswa hingga pelajar dapat datang untuk mempelajari pengelolaan perpustakaan dan sampah, termasuk mengolah sampah menjadi produk yang bermanfaat.

Dosen Prodi Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Labibah Zain menjelaskan bahwa perpustakaan setidaknya perlu didukung oleh koleksi, sistem, sumber daya manusia (SDM), layanan dan program, ruang serta fasilitas serta dampak yang dapat dirasakan masyarakat. Ia menegaskan, koleksi yang dimiliki perpustakaan harus memiliki keterkaitan dengan kebutuhan masyarakat.

“Apabila masyarakat menghadapi persoalan ekonomi misalnya, perpustakaan dapat menyediakan informasi mengenai kewirausahaan, keterampilan kerja, maupun akses terhadap informasi lowongan pekerjaan,” sebutnya.

“Jadikan perpustakaan menjadi solusi yang tadinya orang masuk ke perpustakaan dalam kondisi bingung, maka ketika sudah mengakses perpustakaan, dia menemukan pencerahan,” pungkas Labibah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Pendidikan