WartaJakarta.com – Jakarta
Bagaimana jika Primbon Jawa tidak lagi dipandang semata-mata sebagai ramalan atau sesuatu yang bersifat mistis, tetapi dibaca kembali sebagai pengetahuan lokal sekaligus ruang refleksi manusia dalam menghadapi kehidupan masa kini?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan yang dihadirkan dalam PORONEPTU, sebuah pameran seni instalasi partisipatoris yang mengajak publik memasuki ruang spiritual-imajinatif melalui simbol-simbol estetika Jawa, angka neptu, serta fragmen visual candi.
Pameran yang menghadirkan karya perupa Sri Hardana ini mengolah berbagai simbol dan elemen budaya Jawa ke dalam bahasa visual pop surealisme. Material kertas daur ulang dipadukan dengan teknik digital print dan disusun menjadi konfigurasi puzzle dengan pendekatan ornamentik surealistik.
Melalui tata ruang, pendar warna, serta pencahayaan redup, PORONEPTU membangun suasana visual yang imajinatif sekaligus kontemplatif. Pengunjung tidak hanya diajak menikmati karya secara visual, tetapi juga diberikan ruang untuk berinteraksi, bertanya, menafsirkan, dan menemukan makna personal dari pengalaman yang mereka alami di dalam ruang pamer.
Konsep partisipatoris menjadi salah satu kekuatan utama PORONEPTU. Publik bukan sekadar hadir sebagai penonton, melainkan menjadi bagian dari proses terbentuknya karya.
Pengunjung bahkan diajak datang dengan membawa satu pertanyaan tentang kehidupan masing-masing. Pertanyaan tersebut dapat berkaitan dengan cinta, pekerjaan, rezeki, harapan, kecemasan, hingga masa depan.
Dari pertanyaan tersebut, pengunjung diajak untuk datang, bertanya, melempar, menemukan, dan menafsirkan. Dengan demikian, pengalaman setiap orang ketika berada di dalam pameran dapat menjadi berbeda dan bersifat personal.
Kurator Citra Smara Dewi turut memperkuat gagasan pameran dengan menghadirkan Primbon Jawa dalam perspektif yang lebih terbuka dan kontekstual. Tradisi dan simbol-simbol yang selama ini kerap ditempatkan dalam wilayah mistis ditawarkan sebagai bagian dari kekayaan pengetahuan lokal yang masih dapat dibaca dan direnungkan dalam kehidupan kontemporer.
PORONEPTU sekaligus menjadi ruang pertemuan antara tradisi, seni visual, imajinasi, dan pengalaman personal. Melalui pendekatan pop surealisme, simbol-simbol Jawa tidak sekadar ditampilkan sebagai ornamen, tetapi menjadi pintu masuk bagi pengunjung untuk mempertanyakan kembali hubungan manusia dengan dirinya, lingkungan, tradisi, serta berbagai kemungkinan kehidupan di masa depan, Ujarnya, Selasa ( 4/8] 2026 di Jakarta.
Pameran PORONEPTU akan berlangsung pada 7–11 Agustus 2026, pukul 10.00–21.00 WIB, bertempat di Balai Budaya Jakarta, Jl. Gereja Theresia No. 47, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta.
Pembukaan PORONEPTU akan dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal ( 7/8) 2026,oleh Seniman: Sri Hardana
Kurator: Citra Smara Dewi
PORONEPTU mengundang publik untuk tidak sekadar datang melihat karya, tetapi membawa satu pertanyaan yang mungkin selama ini tersimpan dalam diri.
Datang. Bertanya. Lempar. Temukan. Tafsirkan. Jadilah bagian dari PORONEPTU.
Sebab, dalam pameran ini, karya tidak benar-benar menjadi utuh tanpa keterlibatan publik.