Connect with us

Ragam

Rumah Karya Manusia, Rumah Inklusif yang Membuka Harapan bagi Anak Berkebutuhan Khusus

(.photo dari kiri- ke Kanan ibu Teta - Ibu Ima Rani, S.Psi., M.M. selaku Pendiri Rumah Karya Manusia

WartaJakarta.com – Jakarta
Di tengah ramainya aktivitas Plaza Cibubur, berdiri sebuah lembaga pendidikan yang menghadirkan wajah berbeda dalam dunia pendidikan Indonesia. Bukan sekadar menjadi tempat belajar, tetapi juga rumah yang mempertemukan anak reguler dan anak berkebutuhan khusus untuk tumbuh, belajar, dan berkarya bersama tanpa sekat.

Lembaga tersebut adalah Rumah Karya Manusia (RKM), sebuah pusat pendidikan inklusif yang didirikan oleh Ima Rani, S.Psi., M.M., berbekal pengalaman lebih dari dua dekade mendampingi anak berkebutuhan khusus.

Perjalanan Rumah Karya Manusia tidak dimulai dari sebuah gedung besar, melainkan dari rumah pribadi yang disulap menjadi ruang belajar pada tahun 2021. Sebelum mendirikan RKM, Ima telah mengabdikan dirinya di bidang psikologi sejak 2001 melalui layanan psikotes, konseling tumbuh kembang, hingga berbagai kegiatan assessment.

“Saya sudah lama berkecimpung di pendidikan anak berkebutuhan khusus. Selama itu saya terus belajar dan melihat langsung bagaimana mereka membutuhkan ruang untuk berkembang,” ujar Ima.

Filosofi Sebuah Rumah untuk Semua

Nama “Rumah Karya Manusia” lahir dari sebuah filosofi sederhana namun mendalam. Awalnya, Ima ingin menggunakan nama “Pelita Bunda”, namun karena telah terdaftar, ia memilih nama yang lebih mencerminkan cita-citanya.

“Kami ingin menjadi rumah yang membuat semua manusia bisa berkarya. Ada anak reguler, ada anak spesial, tetapi hakikatnya mereka semua memiliki hak yang sama untuk belajar,” tuturnya.

Seiring bertambahnya jumlah peserta didik, rumah sederhana yang menjadi tempat belajar mulai tidak mampu menampung seluruh aktivitas pembelajaran. Pada tahun 2022, RKM kemudian berpindah ke Plaza Cibubur.
Keputusan memindahkan sekolah ke pusat perbelanjaan bukan tanpa alasan. “Saya ingin masyarakat melihat bahwa anak-anak spesial tidak perlu ditakuti. Mereka bisa belajar, berkarya, dan hidup berdampingan dengan siapa saja. Kalau bukan kita yang memperkenalkan mereka kepada masyarakat, siapa lagi?” katanya, Selasa ( 28/7) di Cibubur.

Kini, Rumah Karya Manusia membina sekitar 19 siswa program harian dan lebih dari 60 peserta terapi yang mengikuti berbagai layanan seperti terapi wicara, okupasi terapi, sensory integration, terapi perilaku, fisioterapi, hingga cognitive behavior therapy.

 

 

Mengajarkan Kemandirian Sejak Dini

Bagi Ima, tujuan utama pendidikan bukan hanya mengejar nilai akademik, melainkan membentuk manusia yang mandiri. “Menurut saya, Tuhan tidak pernah menciptakan produk yang gagal. Dengan segala keterbatasannya, mereka tetap harus bisa hidup mandiri, makan sendiri, mandi sendiri, bekerja, dan berkontribusi di masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, pembelajaran di Rumah Karya Manusia lebih banyak berfokus pada Activity Daily Living (ADL). Anak-anak dilatih melalui praktik langsung untuk merapikan tempat tidur, mencuci pakaian, menyetrika, memasak, menjaga kebersihan diri, hingga membersihkan rumah.

Pelajaran akademik juga dikemas secara kontekstual. Saat belajar matematika, misalnya, anak-anak diajak berbelanja ke supermarket untuk menghitung harga barang, memahami konsep uang, serta menimbang bahan makanan secara langsung.

Tak hanya itu, mereka juga mengikuti kelas kewirausahaan. Para siswa belajar membuat produk seperti cookies, menghitung biaya produksi, menjual hasil karya, hingga menikmati keuntungan dari hasil penjualan.

“Kami ingin mereka percaya bahwa mereka mampu bekerja dan menghasilkan uang seperti orang lain. Dari situlah rasa percaya diri tumbuh,” jelas Ima.

Pendidikan Sepanjang Hayat

Komitmen Rumah Karya Manusia tidak berhenti pada pendidikan anak-anak. Ima juga mendirikan Kampusnya Manusia, program pendidikan nonformal selama tiga tahun bagi lulusan SMA berkebutuhan khusus yang belum memiliki akses ke perguruan tinggi.

Setelah menyelesaikan program tersebut, peserta dapat melanjutkan ke Balai Latihan Kerja (BLK) untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Seluruh program tersebut dirangkum dalam tagline “Lifetime Education”, yang mencerminkan komitmen RKM memberikan kesempatan belajar bagi siapa saja, mulai dari usia dua tahun hingga peserta berusia lebih dari 40 tahun.

Satu Syarat Menjadi Siswa

Hal yang paling menarik dari Rumah Karya Manusia adalah keterbukaannya terhadap semua anak.

“Syarat masuk di sini cuma satu, yang penting masih ada denyut nadi. Kami tidak pernah menolak anak, apa pun kondisinya. Kalau lembaga seperti kami saja memilih-milih, lalu mereka harus belajar di mana?” ungkap Ima.

Untuk memastikan setiap peserta memperoleh layanan sesuai kebutuhannya, proses pembelajaran dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu low function, middle function, dan high function, sehingga metode pembelajaran dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Beasiswa untuk Anak Berprestasi

Komitmen RKM dalam mendukung potensi peserta didik juga diwujudkan melalui program beasiswa.

Salah satu penerima beasiswa adalah Raja Akbar Firdaus, siswa yang memperoleh beasiswa pendidikan selama satu tahun.

Menurut Ima, penghargaan tersebut bukan hanya diberikan karena prestasi akademik Raja, tetapi juga karena dukungan luar biasa dari keluarganya, terutama sang ibu yang aktif mendampingi seluruh proses tumbuh kembang anak.

“Prestasi Raja memang sangat baik, tetapi yang lebih penting adalah kerja sama orang tuanya. Mamanya sangat concern terhadap perkembangan Raja. Itu menjadi salah satu pertimbangan utama kami memberikan beasiswa,” jelasnya.

Raja menjadi siswa ketiga yang memperoleh beasiswa dari Rumah Karya Manusia. Selain Raja, RKM juga membina berbagai anak berbakat, termasuk seorang siswa yang telah menorehkan prestasi melukis hingga tingkat nasional.

“Kami ingin semakin banyak anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensinya,” tambah Ima.

Mengubah Cara Pandang Masyarakat

Di balik seluruh perjalanan dan program yang dijalankan, Ima Rani memiliki harapan sederhana namun besar: mengubah cara masyarakat memandang anak berkebutuhan khusus.

Baginya, setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang apabila diberi kesempatan, pendampingan, dan lingkungan yang tepat.

“Mudah-mudahan Rumah Karya Manusia bisa menginspirasi banyak orang. Saya ingin masyarakat percaya bahwa setiap anak, apa pun kondisinya, memiliki hak yang sama untuk belajar, mandiri, dan berkarya,” tutupnya.

Melalui pendekatan pendidikan yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada kemandirian, Rumah Karya Manusia membuktikan bahwa pendidikan bukan sekadar proses mengajar di dalam kelas. Lebih dari itu, pendidikan adalah tentang membuka harapan, menumbuhkan kepercayaan diri, dan memberi ruang bagi setiap anak untuk menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya serta memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Ragam