Connect with us

Pendidikan

Sampoerna University Ambil Peran Strategis Berkolaborasi dengan PRID Bappeda Provinsi DKI Jakarta Hadirkan Forum Internasional

Wartajakarta.com- Jakarta memasuki babak penting dalam pembangunannya dengan visi menjadi Top 20 Global City pada 2045, sekaligus menyongsong usia 500 tahun (Jakarta 500). Seiring dengan visi tersebut, Jakarta menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan saling berkaitan, mulai dari infrastruktur, lingkungan, hingga aspek sosial dan ekonomi. Menjawab tantangan ini, Sampoerna University bersama Pusat Riset dan Inovasi Daerah (PRID) Bappeda Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan International Symposium “Towards Jakarta 500: Building a Resilient and Inclusive City” untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam berbagi pengetahuan dan perspektif global, serta merumuskan rekomendasi kebijakan lintas sektor yang berbasis riset dan studi kasus nyata bagi masa depan Jakarta.

Urgensi pembangunan tersebut semakin kuat seiring dengan Undang-Undang No. 2 Tahun 2024 yang menetapkan Jakarta sebagai Pusat Perekonomian Nasional dan Kota Global, serta Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045 yang menetapkan visi “Jakarta Kota Global, Berdaya Saing, Berkelanjutan, dan Sejahtera.”

Kedua arah kebijakan tersebut menempatkan Jakarta pada posisi strategis untuk mempersiapkan pembangunan kota yang maju, adaptif dan berorientasi masa depan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat daya saing Jakarta sebagai kota global.

Untuk mewujudkan visi tersebut, tantangan Jakarta tidak dapat dijawab oleh satu sektor saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, peneliti, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menghubungkan pengetahuan global dengan konteks lokal, serta memanfaatkan riset dan inovasi guna menghasilkan solusi relevan bagi Jakarta.

Sejalan dengan kebutuhan tersebut, Sampoerna University menjalankan perannya sebagai perguruan tinggi dalam menghadirkan perspektif berbasis pengetahuan dan riset mengenai masa depan Jakarta, sekaligus menyediakan ruang untuk pertukaran pengetahuan dan kolaborasi melalui simposium ini. Dengan pengalaman pendidikan berstandar Amerika Serikat, serta sebagai universitas pertama di Indonesia dan satu-satunya institusi di Asia Tenggara yang memiliki akreditasi institusional dari Amerika Serikat melalui NECHE (New England Commission of Higher Education), Sampoerna University turut membawa perspektif global dalam pembahasan yang berangkat dari kebutuhan dan konteks lokal Jakarta.

Dr. Farid Triawan, Dekan Faculty of Engineering and Technology Sampoerna University sekaligus Symposium Chair, mengatakan, “Sampoerna University merupakan bagian dari Jakarta, sehingga kami ingin turut berperan dalam menjawab tantangan dan membangun masa depan kota ini. Kami melihat perguruan tinggi memiliki kesempatan untuk mengambil langkah proaktif melalui pengetahuan, riset, dan perspektif akademik yang dimilikinya. Melalui simposium ini, kami tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga belajar dari berbagai perspektif yang hadir. Kami berharap keahlian dan riset yang kami bawa dapat memperkaya pembahasan serta menghasilkan insight yang relevan bagi pembangunan Jakarta, sekaligus mendukung cita-cita Jakarta menjadi kota global yang mampu menarik talenta terbaik.”

Simposium ini diselenggarakan pada 22–24 September 2026 di Sampoerna Strategic Square, dengan mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, peneliti, serta berbagai institusi terkait, termasuk Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), University of Nottingham, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), World Bank, dan JICA Indonesia. Selama tiga hari, simposium menghadirkan 28 pembicara undangan dalam sesi keynote, breakout sessions, dan Leadership Response Forum, yang mewakili sekitar 25 institusi dan organisasi dari enam negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Belanda, dan Inggris, serta jaringan organisasi internasional. Dengan lebih dari 200 peserta dari lebih dari 60 institusi dan organisasi, simposium ini menjadi ruang pertukaran wawasan global dan perspektif lintas sektor untuk membahas tantangan pembangunan Jakarta dalam tiga area utama, yaitu Infrastruktur, Lingkungan, serta Sosial & Ekonomi.

Pembahasan tersebut menyoroti pentingnya perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) yang menghubungkan hasil riset dan pengetahuan dengan kebutuhan pembangunan. Dalam aspek Infrastruktur, diskusi mencakup pengembangan infrastruktur perkotaan yang cerdas, tata kelola digital, mobilitas terintegrasi, transportasi rendah karbon, pengembangan talenta, serta pembiayaan pembangunan yang berkelanjutan. Pada aspek Lingkungan, pembahasan mencakup ketahanan terhadap perubahan iklim, pembangunan perkotaan berbasis alam, transisi energi bersih, ekonomi sirkular, pengelolaan sampah, serta pemanfaatan teknologi hijau. Sementara itu, aspek Sosial & Ekonomi mencakup penguatan daya saing ekonomi, pengembangan talenta, ekosistem digital dan fintech, peningkatan produktivitas UMKM, serta penguatan ketahanan sumber daya manusia.

Maruhal Mangasi Tunas Sijabat selaku Kepala Pusat PRID Bappeda DKI Jakarta mengatakan, “Menjadi kota global bukan hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusia, pengetahuan, dan ekosistem yang mendukung inovasi. Karena itu, penguatan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi menjadi salah satu bagian penting dalam meningkatkan daya saing Jakarta serta membangun fondasi menuju Jakarta 500. Kami optimis bahwa Jakarta dapat terus berkembang menjadi kota global yang semakin berdaya saing. Namun, pembangunan Jakarta bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Kami mengajak seluruh warga Jakarta dan berbagai pemangku kepentingan untuk ikut berpartisipasi membangun dan menjaga Jakarta agar tetap menjadi kota yang nyaman dan menjadi rumah bagi semua.”

Dalam salah satu sesi keynote, Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), menjelaskan bahwa arah kebijakan riset dan inovasi Kemdiktisaintek kini mendorong riset berbasis permasalahan nyata, dengan setiap proposal perlu menunjukkan problem statement, relevansi terhadap kebutuhan daerah, serta potensi penerapannya di dunia nyata. Pendekatan ini menempatkan perguruan tinggi sebagai motor inovasi yang perlu bekerja lebih dekat dengan pemerintah, industri, dan berbagai pemangku kepentingan, sekaligus mendorong pergeseran dari market fixing menuju market shaping melalui pembangunan ekosistem yang mampu mengantisipasi dan menyelesaikan persoalan sejak awal.

“Kita perlu bergerak dari market fixing menuju market shaping, dari sekadar merespons masalah ketika terjadi menjadi membangun ekosistem yang memungkinkan kita mengantisipasi dan menyelesaikannya sejak awal.

Karena itu, riset tidak hanya perlu berangkat dari topik, tetapi juga dari masalah yang benar-benar perlu diselesaikan, dengan melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, dan industri agar hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi solusi yang relevan bagi masyarakat,” ujar Dr. Fauzan.

Melalui pertukaran pengetahuan dan perspektif selama simposium, berbagai gagasan yang muncul diharapkan dapat memberikan masukan bagi pembangunan Jakarta. Hasil diskusi akan dirangkum dalam Policy Recommendation dan Symposium Completion Report sebagai masukan bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mendukung pembangunan Jakarta yang semakin tangguh, inklusif, dan siap menghadapi masa depan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Pendidikan