Wartajakarta.com— Pameran “Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran” dapat menjadi ruang perjumpaan antara generasi masa kini dengan warisan pengetahuan Nusantara. Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto mengatakan, melalui pengalaman yang lebih dekat, visual, dan mudah dipahami, masyarakat diharapkan dapat melihat bahwa perpustakaan tidak hanya menyimpan koleksi. “Selain menyimpan koleksi, perpustakaan juga menjaga ingatan bangsa agar terus dipelajari, dipahami, dan dimaknai oleh generasi berikutnya,” ungkapnya.
Pameran tersebut menghadirkan berbagai warisan manuskrip Nusantara yang telah diakui dalam Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Memory of the World (MOW). Suharyanto menjelaskan, manuskrip tidak hanya ditampilkan sebagai benda peninggalan masa lalu, tetapi sebagai warisan intelektual. Warisan tersebut merekam gagasan, pengetahuan, nilai, pengalaman, serta perjalanan kehidupan masyarakat pada masanya.
“Warisan dokumenter yang tersimpan dalam manuskrip dapat menjadi pintu masuk untuk memahami identitas, kebudayaan, dan perjalanan bangsa. Warisan dokumenter juga sekaligus menggali nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini,” terangnya.
Melalui pendekatan yang sederhana, komunikatif, dan visual, pameran dirancang untuk mendekatkan manuskrip Nusantara kepada generasi muda. Berbagai reproduksi manuskrip, ilustrasi, infografis, dan elemen visual interaktif digunakan untuk membantu pengunjung memahami cerita dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Pameran ini dibagi dalam empat narasi utama. Pertama, ‘Warisan Indonesia untuk Dunia’, yang memperkenalkan manuskrip sebagai rekaman perjalanan tokoh, peristiwa, gagasan, dan pengalaman masyarakat Nusantara yang memiliki arti penting pada tingkat lokal, nasional, hingga global. Sejumlah manuskrip yang ditampilkan antara lain karya terkait Syekh Yusuf, Bo Sangaji, Sutasoma, Babad Diponegoro, Imam Bonjol, dan Trunojoyo.
Kedua, ‘Warisan Nilai Bersama’, yang mengajak pengunjung melihat manuskrip sebagai media pewarisan nilai, pengetahuan, kepercayaan, dan tradisi antargenerasi. Beberapa contoh yang diperkenalkan di antaranya Panji, Sri Tanjung, Bo Sangaji, Primbon Tengger, serta Warisan Syekh Burhanudin Ulakan.
Ketiga, ‘Warisan Perempuan’, yang menyoroti bagaimana manuskrip turut merekam pengalaman, peran, suara, serta kedudukan perempuan dalam kehidupan masyarakat pada masa lalu. Narasi ini antara lain dihadirkan melalui Simbur Cahaya, Sri Tanjung, dan Panji.
Keempat, “Warisan Karya Istimewa”, yang menghadirkan manuskrip dengan karakter khusus dari sisi isi, bentuk, bahasa, tradisi intelektual, maupun nilai dokumenternya. Di dalamnya terdapat Siksa Kandaṅ Karəsian, Babad Diponegoro, Nagarakretagama, La Galigo, Tambar Ni Hulit, Syair Hamzah Fansuri, dan Pecenongan.
“Keempat narasi yang disuguhkan dalam pameran ini menjadi upaya untuk mengubah cara pandang terhadap manuskrip. Pengunjung tidak hanya diajak melihatnya sebagai ‘benda lama’, tetapi memahami manuskrip sebagai sumber pengetahuan yang menyimpan cerita tentang manusia, masyarakat, pemikiran, nilai, dan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi,” pungkas Suharyanto.
Pameran “Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran” merupakan bagian dari rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan 2026 yang diselenggarakan Perpusnas sepanjang September. Beragam kegiatan literasi dihadirkan untuk menjangkau berbagai kelompok masyarakat, mulai dari anak-anak, pelajar, hingga masyarakat umum.
Rangkaian kegiatan tersebut mencakup kelas literasi, gelar wicara, kelas menulis, literasi musik dan sinema, kegiatan kepustakawanan, serta kegiatan yang mengangkat kekayaan naskah Nusantara. Sejumlah agenda di antaranya Kelas Literasi Anak, Kelas Menulis Cerpen Tingkat SMA, Kelas Literasi Klasika, Libtalk Kelas Literasi Referensi, dan Kelas Literasi Bimbingan Pemustaka.
Rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan juga diisi dengan Peluncuran Buku dan Gelar Wicara “Alih Wahana Naskah Ingatan Kolektif Nasional (IKON) & Memory of the World (MOW)”, Penganugerahan Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Seminar IKON–MOW “Naskah, Ingatan, dan Kolektivitas Bangsa”, Penganugerahan Nugra Jasa Dharma Pustaloka kategori Pelestarian Naskah Kuno dan Penghargaan Pengelolaan Naskah Kuno Terbaik kategori Dinas Perpustakaan, serta Kelas Literasi Sinema. Sejumlah kegiatan diselenggarakan secara luring maupun daring agar dapat diikuti masyarakat secara lebih luas.
Melalui rangkaian tersebut, Hari Kunjung Perpustakaan tidak hanya menjadi momentum untuk mengajak masyarakat berkunjung ke perpustakaan, tetapi juga memperluas pemanfaatan perpustakaan sebagai ruang belajar, berkarya, berdiskusi, dan berinteraksi dengan pengetahuan.
Sebagai informasi, Hari Kunjung Perpustakaan berawal dari gagasan Kepala Perpustakaan Nasional RI pertama, Mastini Hardjoprakoso. Pada 14 September 1995, Presiden Republik Indonesia Soeharto mencanangkan September sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan. Sejak saat itu, 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan sebagai momentum untuk mendorong masyarakat semakin dekat dengan perpustakaan dan membangun kebiasaan membaca.