Connect with us

Nasional

Denny JA: Dunia Muslim Perlu Tafsir yang Adil Bagi Perempuan

Wartajakarta.com-Dunia muslim memerlukan tafsir yang pro keadilan bagi perempuan. Menurut pengamatan, diskriminasi terhadap perempuan lebih banyak terjadi di negara-negara di mana Islam menjadi sumber legislasi.

Hal itu diungkapkan oleh Denny JA, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, dalam Webinar yang membahas peran strategis ulama perempuan Indonesia. Webinar itu berlangsung di Jakarta, Kamis malam, 24 November 2022.

Sebagai narasumber adalah Neng Dara Affiah, dosen Universitas Nahdhatul Ulama Indonesia. Diskusi tentang peran strategis ulama perempuan ini dipandu oleh Anick HT dan Elza Peldi Taher.

Denny menjelaskan, diskriminasi terhadap perempuan di negara muslim terjadi karena tafsir konservatif lah yang dominan. “Ini berbeda dengan tafsir yang lebih pro keadilan pada perempuan,” sambungnya.

Menurut Denny, di sinilah arti strategis KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia) yang pada November 2022 ini berlangsung di Semarang. Ada 1.500 peserta dan ulama perempuan dari 37 negara meramaikan kongres ini.

Kongres ulama perempuan Indonesia pertama digelar di Cirebon pada 25 April 2017. Denny mengutip salah satu rekomendasi KUPI tentang pentingnya perspektif keadilan bagi perempuan.

Rekomenasi itu adalah: “Mengintegrasikan keyakinan dan praktik keagamaan dengan perspektif keadilan hakiki dalam relasi laki-laki dan perempuan, yang memperhatikan pengalaman hidup perempuan dan kelompok rentan lainnya.”

Dalam uraiannya, Denny sempat memaparkan tentang meluasnya protes kaum perempuan di Iran belum lama ini soal keharusan memakai jilbab. Protes ini mencerminkan kemarahan masyarakat terhadap rezim yang dianggap melanggar aturan hukum dan hak asasi.

Protes ini dipicu pada 16 september 2022 oleh meninggalnya aktivis perempuan Mahsa Amini, yang menolak memakai jilbab. Kematian Amini memicu gerakan demonstrasi yang meluas di Iran.

Menurut CNN, aksi protes ini lebih luas daripada gerakan protes 2009, 2017, dan 2019. Sedangkan The New York Times menyatakan, ini adalah gerakan protes terbesar sejak 2009.

Lembaga HAM Iran menyatakan, sudah 304 orang terbunuh oleh pasukan keamanan dalam aksi protes di berbagai wilayah di Iran. Beberapa demonstran perempuan mencopot jilbabnya atau menggunting rambutnya di depan publik sebagai protes.

“Ini protes unik karena penggeraknya adalah perempuan dan mereka bergerak untuk satu isu saja,” ujar Denny. “Soal memakai jilbab atau tidak, biarkan perempuan itu yang memutuskan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Nasional