Connect with us

Uncategorized

RAPATKAN BARISAN, KERASKAN SUARA, KAUM MUDA BERSATU LAWAN TAKTIK LICIK ROKOK ELEKTRONIK

Wartajakarta.com . Indonesia harus menghadapi tantangan yang makin besar menjelang peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini. Berdasarkan data Global School-based Student Health Survey (GSHS) yang dilakukan WHO tahun lalu, sebesar 12,6% murid sekolah usia 13-17 tahun di Indonesia menggunakan rokok elektronik. Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya melawan derasnya upaya yang dilakukan perusahaan rokok konvensional, ancaman juga datang dari pemasaran rokok elektronik yang secara nyata menargetkan kalangan muda.

Fakta ini jelas mengkhawatirkan, seperti dinyatakan oleh Pengurus Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr. Annisa Dian Harlivasari, dalam sebuah Diskusi yang di adakan oleh Suara Rokok di Jakarta 6/6/2024) “Rokok elektronik makin menggila. Kalau dibiarkan bisa jadi bom waktu beberapa tahun ke depan. Sasarannya banyak anak muda, bahkan murid sekolah, mereka termakan klaim rokok elektronik cenderung lebih aman dibanding rokok biasa,.

jadi dengan santai konsumsi saja tanpa cari tahu lebih jauh kalau produk ini juga mengandung bahan berbahaya selain nikotin yang mengancam kesehatan seperti formaldehyde, glycol, gliserol dan lainnya yang dapat menyebabkan pernapasan bahkan kanker paru”. Berdasarkan laporan Tobacco Enforcement and Reporting Movement (TERM) dari Vital Strategies, promosi, iklan, dan sponsor rokok elektronik menargetkan anak muda. Hal tersebut menggarisbawahi pemasaran yang berorientasi pada rasa yang unik, warna kemasan produk yang keren, canggih, dan bisa dimodifikasi. Semua hal ini digabungkan menjadi sebuah gaya hidup baru untuk anak muda.

Ini juga sejalan dengan temuan Indonesian Youth Council for Tobacco Control (IYCTC) dalam sebuah kajian berjudul Rokok Elektronik: Baju Biru Bisnis Adiktif yang menyatakan bahwa iklan, promosi, dan sponsor rokok sangat masif di media sosial dan tak jarang dilakukan oleh influencer yang memiliki potensial follower remaja dan dewasa muda.

Manik Marganamahendra, Ketua Umum IYCTC menekankan, “Produsen rokok elektronik sangat militan sekali dalam penjualan, mengiklankan, bahkan mempromosikan dengan hal yang menarik untuk kaum muda, ini kondisi gawat darurat untuk kita semua. Pemerintah harusnya belajar dari kejadian masa lampau, ini seperti dejavu, dulu awal rokok jadi tren juga dimulai seperti ini. Seharusnya ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk bekerja lebih cepat lagi dalam permasalahan rokok.”

Dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini dan juga sebagai bagian dari upaya melawan promosi masif rokok elektronik yang jelas salah kaprah, Social Force in Action for Tobacco Control (SFA for TC) bersama #SuaraTanpa Rokok menginisiasi kampanye digital #DirtyEcigs yang dimulai sejak April hingga Juni 2024.

Sarah Muthiah Widad, Campaign Manager dari #DirtyEcigs campaign menyatakan, “Kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia Ini merupakan cara kami anak muda yang jelas terganggu oleh promosi sesat rokok elektronik. Antusiasme anak muda untuk ikut kampanye #DirtyEcigs menunjukkan bahwa banyak dari mereka yang tidak ingin terus menerus menjadi sasaran produk rokok khususnya rokok elektronik. Harapannya, terutama di Hari Tanpa Tembakau Sedunia, kampanye ini dapat

menghimpun suara anak muda lebih banyak dan keras lagi untuk melawan kebohongan rokok elektronik”.

Salah satu kegiatan rangkaian kampanye #Dirty Ecigs adalah doodling challenge yang mengajak kaum muda mengubah foto terkait rokok elektronik menjadi karya yang menggambarkan sesuatu yang lebih positif, asyik, sehat, dan bermanfaat. Hingga saat ini lebih dari 250 karya terkumpul hasil dari antusiasme campaigner #DirtyEcigs di seluruh Indonesia.

Kampanye #Dirty Ecigs sudah berjalan di Instagram sejak bulan April lalu dan masih akan terus berjalan untuk melawan promosi rokok elektronik. Selain doodling challenge, rangkaian kampanye ini juga akan diisi dengan Tik Tok challenge berkonsep pantun bersambung yang akan hadir hingga akhir Juni 2024. Silakan kunjungi akun instagram @sfafortc dan @suara_tanpa_rokok untuk bergabung dalam kampanye ini.

Berdasarkan data Global Adult Tobacco Survey (GATS) oleh WHO, terjadi peningkatan signifikan pengguna rokok elektronik di Indonesia, dari 0,3% (480 ribu) di tahun 2011 menjadi 3% (6,6 juta) di tahun 2021. Sebanyak 41.5% pelajar di Indonesia mengetahui iklan rokok elektronik dari teman menurut Global Youth Tobacco Survey (GYTS) WHO tahun 2019.

Tentang Kekuatan Sosial dalam Aksi Pengendalian Tembakau (SFA for TC)

Sebuah komunitas muda yang terafiliasi ke berbagai organisasi dan perorangan dengan visi dan misi yang sama, menciptakan Indonesia yang sehat tanpa produk tembakau. SFA for TC dibentuk dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat, khususnya anak muda Indonesia tentang perlunya pengendalian tembakau untuk Indonesia yang lebih sehat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized