Wartajakarta.com-Dalam suatu diskusi yang membahas lukisan-lukisan karya seorang maestro, seorang kritikus atau pengamat –dengan gaya akademis yang tinggi– membahas campuran warna di sebuah lukisan. Lukisan tersebut waktu itu memang sedang dipamerkan.
Dari cara ia bicara yang fasih, pengamat itu tampaknya banyak membaca teori-teori seni rupa. Berbagai teori seni dan aliran seni lukis dikutipnya.
Hal itu ia gunakan untuk menganalisis campuran warna jingga dalam lukisan sang maestro, yang menurut pengamat itu kurang pas. Mungkin itu tidak sesuai dengan teori yang ia pelajari. Dia gugat pula makna dari campuran warna itu dari berbagai aspek.
Para hadirin terpana. Bahasan kritikus ini sangat canggih, keren, dan memukau, untuk dituliskan menjadi sebuah ulasan seni yang “akademis” dan “berbobot.”
Setelah tanggapan panjang dari pengamat atau kritikus itu, moderator pun bertanya pada si pelukis. “Bagaimana jawaban bapak terhadap tanggapan dan uraian pengamat tadi?”
Sang pelukis pun tersenyum, lalu menjelaskan: “Oooh, begini. Waktu saya melukis saat itu, tanpa sengaja tangan saya menekan tube cat warna jingga terlalu keras. Sehingga cat warna jingga itu muncrat ke kanvas.”
“Nah, daripada lukisan yang sudah hampir jadi itu dibuang gara-gara kecipratan cat, maka saya berimprovisasi. Muncratan cat warna jingganya saya padukan saja ke lukisan, sehingga menjadi lukisan yang dipamerkan sekarang ini!” lanjut si pelukis.
Kisah ini mungkin betul-betul pernah terjadi, mungkin juga tidak. Tapi kisah ini memberi sebuah ilustrasi, inilah repotnya jika kita berurusan dengan kritikus atau pengamat yang “terlalu pintar.”
Mereka terlalu banyak makan teori, sehingga keasyikan dan tenggelam dalam teori-teori itu sendiri. Padahal, penjelasan yang muncul ternyata sebuah “realita yang sederhana saja.”
Para pengamat dan kritikus yang “terlalu pintar” itu mungkin justru silap.
Mereka tidak mampu melihat realita yang sederhana, justru karena di benaknya sudah terlalu rumit dan njelimet, dengan begitu banyak teori. Belum lagi menghitung berbagai asumsi dan prasangka yang mungkin mewarnai penilaiannya.
Jadi, memahami sesuatu realita itu ternyata “gampang-gampang susah”..
*Satrio Arismunandar,*