Connect with us

Nasional

Satrio Arismunandar: Berdayakan Budaya Malu dan Kebersalahan untuk Atasi Korupsi

Wartajakarta.com-Kita perlu memberdayakan dan menghidupkan kembali budaya malu (shame culture) dan budaya kebersalahan (guilt culture), sebagai strategi budaya untuk mengatasi masalah korupsi. Kedua budaya itu bersifat universal dan ada di seluruh dunia.

Hal itu dinyatakan Satrio Arismunandar, Sekjen Perkumpulan Penulis Indonesia, SATUPENA, dalam Webinar Obrolan Hati Pena #20 di Jakarta, Kamis malam (6/1). Diskusi itu membahas buku “Perilaku Korupsi Elite Politik di Indonesia” karya Satrio.

Satrio menggarisbawahi pernyataan tokoh proklamator, Bung Hatta, bahwa korupsi di Indonesia sudah membudaya. Maka cara mengatasinya tak cukup dengan sekadar perangkat hukum, seperti ancaman hukuman mati. Tetapi juga harus menggunakan strategi budaya.

Dalam diskusi yang dipandu Elza Peldi Taher dan Amelia Fitriani itu, Satrio memberi beberapa contoh bagaimana korupsi sudah membudaya. Yakni, masyarakat sendiri tidak memberlakukan sanksi sosial terhadap para pelaku korupsi.

“Misalnya, kalau ada acara kawinan, pelaku korupsi tetap diundang sebagai tamu. Para mempelai tidak merasa malu, bahkan dengan bangga berfoto bersama pelaku korupsi. Khususnya jika si pelaku korupsi itu adalah tokoh ternama atau pejabat,” ujar Satrio.

“Maka, secara tak langsung masyarakat sebetulnya turut mendukung perilaku korupsi. Walaupun secara formal dan secara hukum, korupsi tetap dianggap sebagai kejahatan luar biasa,” tambah Satrio.

Buku tentang perilaku korupsi ini dibuat berdasarkan hasil penelitian dan disertasi Satrio di S3 Filsafat Universitas Indonesia pada 2014. Karena tidak dijual di toko buku, buku ini bisa dipesan lewat pengurus SATUPENA, Irsyad Mohammad (WA: 0838-7911-7852).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

More in Nasional