Wartajakarta.com-Tangerang — Seminar Internasional Bappeda Kabupaten Tangerang 2026 menjadi ruang kolaborasi penting antara akademisi, pemerintah, praktisi, sektor swasta, mahasiswa, dan masyarakat dalam merumuskan arah pembangunan daerah yang lebih berkelanjutan. Kegiatan bertajuk “Reimagining the Future of Regions: Smart, Resilient, and Sustainable Pathways in a Disrupted World” ini diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Senin, 25 Mei 2026.
Melalui subtema “Driving Sustainable Economic Growth through Efficient Resource Management in the Face of Dynamic Global Economic Challenges” yang merupakan reprensentasi bidang PPSDA (Perekonomian dan Sumber Daya Alam) dengan ibu Kabid Ibu Dewi Amalia, seminar ini menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak dapat lagi dijalankan secara sektoral. Tantangan perubahan iklim, ketimpangan wilayah, urbanisasi cepat, transformasi digital, dan tuntutan pembangunan inklusif membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara terpadu. Forum ini menjadi bentuk nyata pengabdian akademisi kepada masyarakat dan lingkungan melalui penyebaran pengetahuan, pertukaran gagasan, serta perumusan rekomendasi kebijakan berbasis keilmuan.
Keterlibatan akademisi dalam seminar ini tidak hanya berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga masuk ke ruang perencanaan strategis. Dr. Annuridya Rosyidta Pratiwi Octasylva, S.Pi., M.M. (Dosen Institut Teknologi Indonesia dan Universitas MH Thamrin) berperan sebagai tenaga ahli yang mengembangkan kerangka konseptual kegiatan pada bidang PPSDA Bappeda Kabupaten Tangerang, mengidentifikasi narasumber, meninjau keselarasan materi dengan tujuan seminar, memantau kualitas substansi diskusi, serta berkontribusi dalam perumusan hasil dan rekomendasi. Sementara itu, Afina Putri Vindiana, S.Si., M.S.M. berperan sebagai pakar pendukung dalam identifikasi narasumber, koordinasi materi, dokumentasi substansi, dan penyusunan laporan kegiatan.
Seminar ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, antara lain Dr. Mohamad Farizal Rajemi dari Universiti Utara Malaysia, Dr. Ningky Sasanti Munir dari MH Thamrin University Jakarta, Prof. Ujang Sumarwan dari IPB University, Prof. Dr. rer. nat. Hesham A. El Enshasy dari Universiti Teknologi Malaysia, Nurdin Setiawan dari APINDO/KADIN-GM HRM, serta perwakilan Kementerian PPN/Bappenas. Kehadiran para narasumber tersebut memperkuat posisi seminar sebagai forum lintas disiplin yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, kebutuhan industri, dan kepentingan masyarakat.
Jalannya diskusi dipandu oleh dua moderator, yaitu Silvia Merdikawati, S.T., M.T., MBA., Ph.D. dan Ir. Yasmin Mauliddina, S.T., M.Sc., IPM., ASEAN Eng. Keduanya berperan menjaga arah pembahasan agar tetap fokus pada isu utama, sekaligus mendorong dialog yang produktif antara narasumber dan peserta. Kehadiran moderator dari kalangan akademisi dan profesional turut memperkuat kualitas diskusi, terutama dalam menghubungkan gagasan ilmiah dengan kebutuhan praktis pembangunan daerah. Bagi Universitas MH Thamrin dan Institut Teknologi Indonesia, keterlibatan aktif dosen mereka sebagai tenaga ahli dalam perencanaan strategis daerah ini menjadi bukti nyata pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi dalam menghadirkan dosen yang berkegiatan dan bermanfaat langsung di luar kampus.
Dalam forum tersebut, isu ekonomi hijau, ESG, bioekonomi sirkular, pemberdayaan konsumen, kemandirian petani, serta penyelarasan industri dan tenaga kerja menjadi pokok pembahasan utama. Gagasan-gagasan yang disampaikan diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung, mulai dari ketahanan pangan, pengurangan ketergantungan terhadap input kimia, peningkatan kapasitas UMKM, hingga penguatan kebijakan daerah yang lebih ramah lingkungan.
Partisipasi peserta juga menunjukkan kuatnya semangat kolaborasi Pentahelix. Peserta berasal dari unsur akademisi, pemerintah, sektor swasta, lembaga teknis, mahasiswa, praktisi muda, dan masyarakat umum. Kehadiran institusi seperti Universitas Veteran Bangun Nusantara, Universitas Paramadina, IPB University, BINUS University, Universitas Pelita Harapan, Swiss German University, Pradita University, Institut Teknologi Indonesia, dan berbagai kampus lainnya serta Bappenas, BRIN, Bappeda Kota Tangerang, APINDO, hingga pelaku usaha menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan kerja bersama lintas sektor. Bahkan perwakilan dari Universitas Veteran Bangun Nusantara dan Universitas Paramadina secara spesifik memberikan masukan terkait strategi penguatan kapasitas UMKM lokal dan model pembiayaan hijau sirkular yang dapat diterapkan di tingkat kelurahan.
Bagi dunia akademik, kegiatan ini menjadi wujud pengabdian kepada masyarakat karena ilmu pengetahuan tidak hanya dibahas dalam ruang kampus, tetapi diterjemahkan menjadi masukan konkret bagi pembangunan daerah. Akademisi berperan menjembatani teori, data, dan praktik agar kebijakan pembangunan ekonomi tidak mengabaikan daya dukung lingkungan serta kebutuhan masyarakat lokal. Sebagai kelanjutan dari wujud Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), konsorsium perguruan tinggi yang hadir sepakat untuk membuat buku bagi para stakeholderguna diimplementasikan. Lebih lanjut katimker bidang perencanaan perekonomian dan SDA Selfy Andreany, menyampaikan kegiatan seminar internasional ini tidak hanya berhenti sampai disini, harapannya kedepan dapat dilanjutkan dalam agenda konsorsium pentahelix yang dapat diangkat dalam karya- karya ilmiah lainnya yang dapat dipublikasikan dan diimplementasikan untuk membangun kabupaten tangerang yang lebih sejahtera dan berdaya saing.
Seminar ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain integrasi target pembangunan rendah karbon dan tangguh iklim ke dalam dokumen perencanaan daerah, peningkatan literasi ESG bagi BUMD dan perangkat daerah, serta pengembangan inovasi pembiayaan hijau melalui skema pembiayaan campuran, obligasi hijau, zakat hijau, dan wakaf untuk mendukung infrastruktur berkelanjutan. Rekomendasi strategis yang dirumuskan oleh para akademisi, termasuk dari MH Thamrin University dan IPB University, tidak hanya berhenti sebagai laporan, melainkan akan disusun menjadi kebijakan daerah (policy brief).
Kegiatan ini menegaskan bahwa kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi modal penting dalam membangun Kabupaten Tangerang yang lebih tangguh, inklusif, dan berwawasan lingkungan. Seminar internasional tersebut bukan hanya agenda ilmiah, melainkan juga bagian dari kontribusi nyata akademisi dalam mendampingi masyarakat dan daerah menghadapi tantangan ekonomi serta lingkungan menuju Indonesia Emas 2045.