Connect with us

Pendidikan

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas)Perkuat Upaya Pelestarian dan Pemanfaatan Warisan Dokumenter bangsa Melalui Kegiatan “Merawat Ingatan Kolektif Bangsa”

 

Wartajakarta.com-Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memperkuat upaya pelestarian dan pemanfaatan warisan dokumenter bangsa melalui rangkaian kegiatan “Merawat Ingatan Kolektif Bangsa”. Pelestarian tersebut tidak berhenti pada penyelamatan dan penyimpanan naskah kuno, tetapi diarahkan untuk membuka akses terhadap pengetahuan, nilai budaya, dan memori yang terkandung di dalamnya agar dapat terus dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat lintas generasi.

Rangkaian kegiatan tersebut mencakup tiga agenda utama. Pertama, alih wahana naskah kuno menjadi bahan bacaan yang lebih mudah diakses masyarakat. Kedua, penguatan Program Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan keterkaitannya dengan program Memory of the World (MoW) UNESCO. Ketiga, pemberian penghargaan nasional kepada insan dan lembaga yang berkontribusi dalam pelestarian naskah kuno Nusantara. Rangkaian kegiatan tersebut akan berlangsung pada 23–24 September 2026 di Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta Pusat.

Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa naskah kuno merupakan bagian dari ingatan kolektif bangsa yang tidak cukup hanya dijaga keberadaan fisiknya. Kandungan pengetahuan di dalam naskah tersebut juga perlu dihidupkan kembali agar tetap relevan dan memberi manfaat bagi masyarakat masa kini.

“Ikhtiar Perpustakaan Nasional dalam merawat peradaban bangsa tidak boleh berhenti pada pelestarian semata, tetapi harus berujung pada pemanfaatan naskah-naskah tersebut. Dengan demikian, masyarakat dapat membacanya, meningkatkan pengetahuan, serta merefleksikan perjalanan masa lalu sebagai bekal untuk perjalanan ke depan,” tegasnya.

Selain melakukan inventarisasi naskah kuno, Perpusnas juga melakukan konservasi dan preservasi melalui digitalisasi. Namun, menurut Aminudin, upaya tersebut belum cukup. “Kita tentu tidak boleh berhenti pada saat melakukan konservasi dan preservasi yang hasilnya adalah digitalisasi. Karena memang tugas dan misi kami adalah menjadikan Perpusnas sebagai perpustakaan riset,” ujarnya.

Ia menambahkan, setelah melalui proses digitalisasi, naskah kuno kemudian dialihaksarakan dari aksara asal ke aksara Latin. Selanjutnya, naskah hasil alih aksara diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia melalui proses alih bahasa. “Nah, ini adalah proses yang panjang, prosesnya lama, dan ini sudah terjadi di Perpustakaan Nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kepala Perpusnas menyampaikan bahwa Perpusnas akan memberikan bantuan teknis kepada masyarakat pemilik naskah kuno dalam upaya perawatan dan pelestarian koleksi mereka.

“Kami menyadari bahwa peran mereka sangat esensial. Bagi mereka yang memiliki inisiatif merawat, melestarikan, dan memanfaatkan naskah secara lebih luas, kami menerima usulan pihak-pihak yang dinilai layak untuk memperoleh penghargaan. Mereka bukan hanya merawat naskah, tetapi juga merawat peradaban,” tuturnya.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, memaparkan bahwa hingga September 2026 terdapat 261 naskah yang telah didaftarkan melalui Khasanah Pustaka Nusantara (Khastara). Aplikasi tersebut digunakan untuk pendaftaran naskah kuno Nusantara dan hingga saat ini telah melibatkan 152 lembaga.

Terkait IKON dan MOW, Suharyanto menjelaskan bahwa pada periode 2020–2025 terdapat 20 naskah yang terdaftar sebagai IKON. Sementara itu, pada 2026 terjadi peningkatan jumlah pengajuan. Sebanyak 14 naskah telah diajukan dan diterima untuk diproses, dengan 11 naskah di antaranya yang akan diikutsertakan pada kegiatan tanggal 24 September 2026 mendatang.

“Sepanjang 2026–2027, Perpusnas juga telah menyiapkan dua nominasi untuk Memory of the World Regional Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP). Selain itu, pada 2027 akan diajukan dua nominasi lainnya. Terkait dengan penyediaan bahan bacaan berbasis naskah kuno Nusantara, Perpusnas kembali mengembangkan program tersebut melalui penerbitan 25 komik dan buku anak seri Babad Diponegoro dalam bahasa Inggris, serta 50 komik dan buku anak berbasis naskah IKON dan MOW yang akan diluncurkan pada 23 September 2026 di Medan Merdeka Selatan,” urainya.

Ia menambahkan, Perpusnas juga terus mengembangkan layanan diseminasi dan promosi naskah kuno di Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Medan Merdeka Selatan. Layanan tersebut mencakup peminjaman dan layanan naskah kuno, pemanfaatan ruang, serta penyelenggaraan pameran naskah kuno.

Melalui rangkaian “Merawat Ingatan Kolektif Bangsa”, Perpusnas mendorong agar pelestarian naskah kuno tidak berhenti pada penyelamatan fisik dan digitalisasi, tetapi berlanjut pada upaya membuka kembali pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Dengan memperluas akses dan pemanfaatan serta memberikan apresiasi kepada para pelestari, warisan dokumenter Nusantara diharapkan terus menjadi sumber pengetahuan dan pembelajaran bagi generasi kini dan mendatang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Pendidikan